Pengertian Lengkap Hemoglobin

Hemoglobin adalah molekul protein pada sel darah merah yang berfungsi sebagai media transport oksigen dari paru paru ke seluruh jaringan tubuh dan membawa karbondioksida dari jaringan tubuh ke paru paru. Kandungan zat besi yang terdapat dalam hemoglobin membuat darah berwarna merah. Molekul hemoglobin terdiri dari globin, apoprotein, dan empat gugus heme, suatu molekul organik dengan satu atom besi.
 
Kadar hemoglobin dalam darah yang rendah dikenal dengan istilah anemia. Ada banyak penyebab anemia diantaranya yang paling sering adalah perdarahan, kurang gizi, gangguan sumsum tulang, pengobatan kemoterapi dan abnormalitas hemoglobin bawaan.
Kadar normal hemoglobin
Kadar hemoglobin menggunakan satuan gram/dl. Yang artinya banyaknya gram hemoglobin dalam 100 mililiter darah.
Nilai normal hemoglobin tergantung dari umur pasien :
Bayi baru lahir : 17-22 gram/dl
Umur 1 minggu : 15-20 gram/dl
Umur 1 bulan : 11-15 gram/dl
Anak anak : 11-13 gram/dl
Lelaki dewasa : 14-18 gram/dl
Perempuan dewasa : 12-16 gram/dl
Lelaki tua : 12.4-14.9 gram/dl
Perempuan tua : 11.7-13.8 gram/dl

Metode analisa Hb ada 2 yaitu:
- Metode Sianmethemoglobin ( dengan lar Drabkins ) dibaca dengan
  metode kolorimetri ( spektrofotometer ).
- Metode Sahli ( asam hematin ) dibaca juga dengan metode kolorimetri.
  (dikerjakan praktikum).
1. Metode Sahli


a. Dasar
Metode sahli merupakan satu cara penetapan hemoglobin secara visual. Darah diencerkan dengan larutan HCl sehingga hemoglobin berubah menjadi hematin asam. Untuk dapat menentukan kadar hemoglobin dilakukan dengan mengencerkan larutan campuran tersebut dengan aquadest sampai warnanya sama dengan warna batang gelas standar.

b. Peralatan dan Pereaksi
    - Alat untuk mengambil darah vena atau darah kapiler

    - Aquadest
    - Hemometer sahli, yang terdiri atas
• tabung pengencer. panjang 12cm, dinding bergaris mulai angka 
  2(bawah) s/d 22(atas)
• dua tabung standar warna
• pipet Hb. dengan pipa karet panjang 12,5 cm terdapat angka 20
• pipet HCl
• botol tempat aquadest dan HCl 0,1N
• batang pengaduk (dari glass)
• larutan HCl 0,1N
   
c. Spesimen

Dapat berupa darah kapiler atau darah vena (darah EDTA)
d. Cara Kerja

1. Isi tabung pengencer dengan HCl 0,1N sampai angka 2
2. Dengan pipet Hb, hisap darah sampai angka 20 mm, jangan sampai ada 
    gelembung udara yang ikut terhisap
3. Hapus darah yang ada pada ujung pipet dengan tissue
4. Tuangkan darah ke dalam tabung pengencer, bilas dengan aquadest 
    bila masih ada darah dalam pipet
5. Biarkan satu menit
6. Tambahkan aquadest tetes demi tetes, aduk dengan batang kaca 
    pengaduk
7. Bandingkan larutan dalam tabung pengencer dengan warna larutan 
    standar
8. Bila sudah sama penambahan aquades dihentikan, baca kadar Hb 
    pada skala yang ada ditabung pengencer

f. Sumber Kesalahan

    - Tidak semua hemoglobin berubah menjadi hematin asam seperti
      karboksihemoglobin, methemoglobin, sulfahemoglobin.
    - Cara visual mempunyai kesalahan inheren 15-30%, sehingga tidak 
      dapat untuk menghitung indeks eritrosit.
    - Sumber kesalahan yang sering terjadi :
• kemampuan untuk membedakan warna tidak sama
• sumber cahaya yang kurang baik.
• kelelahan mata
• alat-alat kurang bersih
• ukuran pipet kurang tepat, perlu dikalibrasi
• pemipetan yang kurang akurat
• warna gelas standar pucat / kotor dan lain sebagainya
• penyesuaian warna larutan yang diperiksa dalam komparator kurang 
   akurat.
2. Metode Sianmethemoglobin
a. Dasar
Ferrosianida mengubah besi pada Hb dari bentuk ferro ke bentuk ferri menjadi methemoglobin yang kemudian bereaksi dengan KCN membentuk pigmen yang stabil yaitu sianmethemoglobin. Intensitas warna yang terbentuk yang diukur fotometrok 540 nm. Kalium-hidrogen-fosfat digunakan agar pH tetap di mana reaksi dapat berlangsung sempurna pada saat yang tepat. Deterjen berfungsi mempercepat hemolisa darah serta mencegah kekeruhan yang terjadi oleh protein plasma.
b. Peralatan dan Pereaksi
    - Mikropipet 20 mikroliter / mmk atau pipet Sahli
    - Pipet volumetrik 5 ml
    - Tabung reaksi ukuran 75 x 10mm
    - Spektrofotometer/kolorimeter dengan panjang gelombang 540 nm
    - Larutan Drabkin atau modifikasinya (diperdagangkan dalam bentuk
      kit), yang berisi kandungan :
• kalium ferrosianida 200mg
• KCN 50 mg
• Kalium Hydrogen fosfat 140 mg
• detergen 0,5-1 ml
• aquadest / detenized water ad. 1000 ml

c. Spesimen

Darah kapiler atau darah EDTA
d. Cara Kerja

1. Ke dalam tabung reaksi 75 x 10 mm, pipetkan 5 ml pereaksi
2. Dengan mikropipet tambahkan 20mikroliter / mmk darah penderita ke
    dalam pereaksi tersebut serta hindarilah terjadinya gelembung dan
    bersihkan bagian mikropipet.
3. Campurkan isinya dan iarkan pada suhu kamar selama 3-5 menit dan 
    serapannya dibaca dalam spektrofotometri pada panjang gelombang 
    540nm dengan pereaksi sebagai blangko
4. Kadar hemoglobin dapat dibaca pada kurva kalibrasi atau dihitung 
    dengan menggunakan faktor; dimana kadar Hb = serapan x faktor 
    kurva kalibrasi dan faktor telah dipersiapkan sebelumnya.

e. Pembuatan Kurva Kalibrasi dan Perhitungan faktor.

        Sebelum fotometer dipergunakan untuk penetapan kadar hemoglobin, harus dikalibrasi dulu, atau dihitung faktornya. Untuk keperluan tersebut dipergunakan larutan standart hemisianida (sianmethemoglobin) dan pengenceran larutan tersebut dalam pereaksi Drapkin. Kadar Hb dari larutan standart hemisianida dapat dihitung dalam gr/100ml atau gr/dl sebagai berikut :
Kadar HbLarutan Standart = Kadar hemisianida mg/dl /10  X (500 + 20) mikroliter/ 20 mikroliter = kadar hemisianida X 0,251 mg/dl
Buatlah pengenceran larutan standar 100, 75, 50, 25, dan 0% sebagai blanko dengan larutan Drapkin. Setelah masing-masing tercampur sempurna biarkan pada suhu kamar 3 menit dan baca serapan pada fotometer dengan 540 nm. Buatlah kurvanya dengan kadar Hb sebagai absisi dan serapan sebagai ordinat, maka hasil percobaan serapan pasien tinggi memplotkan pada kurva tera. Atau menggunakan factor sebagai berikut :
Faktor (F) = Jumlah Kadar Hb/ Jumlah Serapan
f. Pengawasan Mutu

Hemolisat yang dipergunakan atau dibuat sendiri dengan standar hemosianida, CV optimal = 3% dan CV tidak boleh lebih dari 6%

g. Sumber Kesalahan

    - Terjadinya jendalan darah
    - Darah yang hipemik menyebabkan hasilnya lebih tinggi dari 
      seharusnya.
    - Leukositosis berat mempengaruhi pengukuran lebih rendah dari
      seharusnya
    - Kerusakan pereaksi
    - Pemipetan yang tidak akurat
    - Fotometer yang kurang baik

artikel ini disalin lengkap dari: http://indonesiailmuwan.blogspot.co.id/2012/09/pengertian-hemoglobin-hemoglobinadalah.html
halaman utama website: http://indonesiailmuwan.blogspot.co.id/
jika mencari artikel yang lebih menarik lagi, kunjungi halaman utama website tersebut. Terimakasih!

No comments:

Not Indonesian?

Search This Blog