bentuk Bumi Prasejarah

Menurut para ahli geologi, bumi mulanya terbentuk kira-kira 4,6 miliar tahun yang lalu, bersamaan dengan terbentuknya sistem tata surya serta planet-planet lain di dalamnya. Asumsi tersebut muncul setelah ditemukan sebuah batu tertua yang diperkirakan berusia 3,9 miliar tahun melalui metode ‘radiometric dating’. Pada saat itu bumi terdiri dari tanah yang membara serta lautan magma.
Penelitian menggunakan metoda radiometric dating tersebut hanya dapat dilakukan pada jenis batuan keras. Maka dari itu, pengetahuan kita mengenai umur bumi yang sesungguhnya terbatas pula sampai pada saat batuan padat keras itu terbentuk. Dengan begitu, sesungguhnya kita tidak mengetahui secara pasti kapan tepatnya bumi terbentuk? Atau sudah berapakah usia bumi yang sesungguhnya?




Lempeng Tektonik: (Geologi); adalah segmen keras kerak bumi yang mengapung diatas astenosfer yang cair dan panas. Sekarang bumi memiliki enam lempeng besar, yaitu lempeng Eurasia, Amerika utara, Amerika selatan, Afrika, Pasifik, dan Hindia AustraliaLapisan bumi terdiri dari lempeng-lempeng tektonik, bumi menjadi planet yang sangat dinamis; pegunungan-pegunungan baru bermunculan, sementara yang lain meletus dan melebur batuan-batuan lama serta menutupinya dengan lapisan baru. Perubahan serta pembentukan lapisan atas bumi yang berlangsung terus menerus ikut serta merekonstruksi batuan lama. Sehingga teori mengenai usia bumi yang dikemukakan para ahli geologi dengan menggunakan metode tersebut, masih dianggap sebagai usia teoretis bumi.
Pada 1912, seorang ilmuwan, Alfred Wegener mengeluarkan sebuah pemikiran gila mengenai lempeng tektonik dan benua. Ia berpikiran bahwa benua-benua di bumi ini pada awalnya terdiri dari satu benua besar. Ia berpikiran, “mungkin pada awalnya benua-benua tersebut tergabung menjadi satu, yang kemudian terpisah-pisah karena pergesaran lempeng tektonik dari waktu ke waktu.”
Wegener kemudian memutuskan memberi nama pada superbenua tersebut dengan nama Pangea, yang berarti “Semua Daratan”. Saat mempresentasikan pemikirannya tersebut kepada para ilmuwan lain, ia menamakan teorinya tersebut sebagai Continental Drift Theory. Pada saat itu ia tidak dapat mengemukakan bukti kuat yang dapat mendukung teorinya. Sehingga para ilmuwan lain menganggapnya sedang mabuk.
Gaya sentrifugal: (Fisika); adalah gaya gerak melingkar yang berputar menjauhi pusat lingkaran dan bernilai positif.Satu dari pendapatnya mengenai lempeng yang bergerak adalah karena adanya gaya sentrifugal dari rotasi bumi yang menyebabkan benua tersebut terpecah dan tersebar. Para ilmuwan tersebut menghitung bahwa gaya sentrifugal tersebut tidak cukup kuat sehingga dapat menggerakan benua-benua yang ada dipermukaan bumi. Mereka berpendapat bahwa benua-benua tersebut kokoh dan diam pada tempatnya.
Kemudian pada 1929, seorang imuwan yang bernama Arthur Holmes berpikiran bahwa teori yang dikemukakan oleh Wegener tidak sepenuhnya salah. Holmes mengidentifikasi salah satu teori Wegener yang menyatakan bahwa bergeraknya benua tersebut karena lapisan bawah bumi yang meleleh serta pijar selalu berusaha keluar ke permukaan. Sehingga dapat menyebabkan terjadinya tumbukan antar lempeng dan hal tersebut dapat menyebabkan benua-benua di atasnya bergerak.
Hal yang dikemukakan oleh Holmes tersebut bukan hanya menerangkan mengapa benua-benua nampak seperti potongan-potongan gambar teka-teki. Ia juga menjelaskan proses terbentuknya gunung dan pegunungan api. Namun, para ilmuwan lain pada saat itu masih tidak dapat diyakinkan dan teori tersebut dan kemudian diabaikan.
Hampir tiga puluh tahun kemudian, penemuan-penemuan baru di bidang teknologi dan industri kelautan untuk tujuan eksplorasi dasar Samudra Atlantik berhasil mengangkat sebuah bukti yang mengejutkan. Mereka menemukan aktivitas gunung api pada dasar Samudra Atlantik yang merupakan sebuah rantai panjang pegunungan api dasar laut di Samudra Atlantik. Penemuan ini merupakan sebuah bukti yang tidak dapat disangkal lagi yang mendukung teori Continental Drift.
Kemudian berdasarkan temuan bukti-bukti tersebut para ahli bersama-sama mengembangkan sebuah instrumen yang dapat membaca dan memprediksi titik gempa bumi di seluruh dunia yang terkonsentrasi pada beberapa titik tertentu. Pada sekitar 1960-an, beberapa ilmuwan menerbitkan jurnal hasil penelitian mereka mengenai Continental Drift yang kemudian lebih dikenal dengan nama Theory of Plate Tectonics.

artikel ini disalin lengkap dari: http://www.wacananusantara.org/lingkungan-alam-prasejarah-bumi-mulanya/
 halaman utama website: http://www.wacananusantara.org/

No comments:

Not Indonesian?

Search This Blog