mahluk ALLAH yang pertama diciptakan

بسم الله الرحمن الرحيم
نحمده ونصلى على رسوله الكريم
Nur Muhammad Menurut Al-qur’an & Hadits
Adapaun mengenai konsep nur muhammad dijelaskan sebagai berikut :
A. Ayat-ayat Al-qur’an dalil tawassul dan Nur Muhammad
1. Dalam surat an-Nisa’ ayat 64, Allah swt. berfirman:
“Dan kami tidak mengutus seseorang Rasul melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah. Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu (Muhammad saw.) lalu memohon ampun kepada Allah, dan rasul (Muhammad saw.) pun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang”.
2. Dalam surat  Al-Maidah ayat 35:
‘Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kalian bertakwa kepada Allah dan carilah washilah….”
Keterangan :
Ibnu Taimiyyah disalah satu kitabnya Qa’idah Jalilah Fit-Tawassul Wal-Washilah dalam pembicaraannya mengenai tafsir ayat Al-Qur’an Al-Maidah: 35 menulis: ‘Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kalian bertakwa kepada Allah dan carilah washilah….’ antara lain mengatakan:
“Mencari washilah atau bertawassul untuk mendekatkan diri kepada Allah swt. hanya dapat dilakukan oleh orang yang beriman kepada Muhammad Rasulallah saw. dan mengikuti tuntunan agamanya. Tawassul dengan beriman dan taat kepada beliau saw. adalah wajib bagi setiap orang, lahir dan bathin, baik dikala beliau masih hidup maupun setelah wafat, baik langsung dihadapan beliau sendiri atau pun tidak. Bagi setiap muslim, tawassul dengan iman dan taat kepada Rasulallah saw. adalah suatu hal yang tidak mungkin dapat ditinggalkan. Untuk memperoleh keridhoan Allah dan keselamatan dari murka-Nya tidak ada jalan lain kecuali tawassul dengan beriman dan taat kepada Rasul-Nya. Sebab, beliaulah penolong (Syafi’) ummat manusia.
Beliau saw. adalah makhluk Allah termulia yang dihormati dan diagungkan oleh manusia-manusia terdahulu maupun generasi-generasi berikutnya hingga hari kiamat kelak. Diantara para Nabi dan Rasul yang menjadi penolong ummatnya masing-masing. Muhammad Rasulallah saw. adalah penolong (Syafi’) yang paling besar dan tinggi nilainya dan paling mulia dalam pandangan Allah swt. Mengenai Nabi Musa as. Allah swt. berfirman, bahwa Ia mulia disisi Allah. Mengenai Nabi Isa a.s. Allah swt. juga berfirman bahwa Ia mulia didunia dan diakhirat, namun dalam firman-firman-Nya yang lain menegaskan bahwa Muhammad Rasulallah saw. lebih mulia dari semua Nabi dan Rasul. Syafa’at dan do’a beliau pada hari kiamat hanya bermanfaat bagi orang yang bertawassul dengan iman dan taat kepada beliau saw. Demikianlah pandangan Ibnu Taimiyyah mengenai tawassul.
Dalam kitabnya Al-Fatawil-Kubra I :140 Ibnu Taimiyyah menjawab atas pertanyaan: Apakah tawassul dengan Nabi Muhammad saw. diperbolehkan atau tidak? Ia menjawab: “Alhamdulillah mengenai tawassul dengan mengimani, mencintai, mentaati Rasulallah saw. dan lain sebagainya adalah amal perbuatan orang yang bersangkutan itu sendiri, sebagaimana yang di perintahkan Allah kepada segenap manusia. Tawassul sedemikian itu di- benarkan oleh syara’ dan dalam hal itu seluruh kaum muslimin sepen- dapat.”
3. Dalam Surat Al-Baqarah :37, mengenai Tawassul Nabi Adam as. pada Rasulallah saw.:
فَتَلَقَّى آدَمُ مِنْ رَبِّهِ كَلِمَاتٍ فَتَابَ عَلَيْهِ اَنَّهُ هُوَا الـَّوَّابُ الرَّحِيْمُ
“Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima taubatnya, sesungguhnya Allah Maha penerima taubat lagi Maha Penyayang ”.
Keterangan :
Tawassul Nabi Adam as. pada Rasulallah saw..  Sebagaimana disebutkan pada firman Allah swt. (Al-Baqarah :37) diatas. Menurut ahli tafsir kalimat-kalimat dari Allah yang diajarkan kepada Nabi Adam as. pada ayat diatas agar taubat Nabi Adam as. diterima ialah dengan menyebut dalam kalimat taubatnya bi-haqqi (demi kebenaran) Nabi Muhammad saw. dan keluarganya. Makna seperti ini bisa kita rujuk pada kitab: Manaqib Ali bin Abi Thalib,  oleh Al-Maghazili As-Syafi’i halaman 63, hadits ke 89; Yanabi’ul Mawaddah, oleh Al-Qundusui Al-Hanafi, halaman 97 dan 239 pada  cet.Istanbul,. halaman 111, 112, 283 pada cet. Al-Haidariyah; Muntakhab Kanzul ‘Ummal, oleh Al-Muntaqi, Al-Hindi (catatan pinggir) Musnad Ahmad bin Hanbal, jilid 1, halaman 419; Ad-Durrul Mantsur, oleh As-Suyuthi Asy-Syafi’i, jilid 1 halaman 60; Al-Ghadir, oleh Al-Amini, jilid 7, halaman 300 dan Ihqagul Haqq, At-Tastari jilid 3 halaman 76. Begitu juga pendapat Imam Jalaluddin Al-Suyuthi waktu menjelaskan makna surat Al-Baqarah :37 dan meriwayatkan hadits tentang taubatnya nabi Adam as. dengan tawassul pada Rasulallah saw.
Nabi Adam as. ,manusia pertama, sudah diajarkan oleh Allah swt. agar taubatnya bisa diterima dengan bertawassul pada Habibullah Nabi Muhammad saw., yang mana beliau belum dilahirkan di alam wujud ini. Untuk mengkompliti makna ayat diatas tentang tawassulnya Nabi Adam as. ini, kami akan kutip berikut ini beberapa hadits Nabi saw. yang berkaitan dengan masalah itu:
Al-Hakim dalam kitabnya Al-Mustadrak/Mustadrak Shahihain jilid 11/651 mengetengahkan hadits yang berasal dari Umar Ibnul Khattab ra. (diriwayat- kan secara berangkai oleh Abu Sa’id ‘Amr bin Muhammad bin Manshur Al-‘Adl, Abul Hasan Muhammad bin Ishaq bin Ibrahim Al-Handzaly, Abul Harits Abdullah bin Muslim Al-Fihri, Ismail bin Maslamah, Abdurrahman bin Zain bin Aslam dan datuknya) sebagai berikut, Rasulallah saw.bersabda:
قَالَ رَسُوْلُ الله.صَ. : لَمَّا اقْتَرَفَ آدَمَُ الخَطِيْئَةَ قَالَ: يَا رَبِّ أسْأَلُكَ بِحَقِّ مُحَمَّدٍ لِمَا غَفَرْتَ لِي,
فَقالَ اللهُ يَا آدَمُ, وَكَيْفَ عَرَفْتَ مُحَمَّدًا وَلَمْ أخْلَقُهُ ؟ قَالَ: يَا رَبِّ ِلأنَّـكَ لَمَّا خَلَقْتَنِي بِيدِكَ
وَنَفَخْتَ فِيَّ مِنْ رُوْحِكَ رَفَعْتُ رَأسِي فَرَأيـْتُ عَلَى القَوَائِمِ العَرْشِ مَكْتُـوْبًا:لإاِلَهِ إلاالله
مُحَمَّدَُ رَسُـولُ اللهِ, فَعَلِمْتُ أنَّكَ لَمْ تُضِفْ إلَى إسْمِكَ إلا أحَبَّ الخَلْقِ إلَيْكَ, فَقَالَ اللهُ
صَدَقْتَ يَا آدَمُ إنَّهُ َلاَحَبَّ الخَلْقِ إلَيَّ اُدْعُنِي بِحَقِّهِ فَقـَدْ غَفَرْتُ لَكَ, وَلَوْ لاَمُحَمَّدٌ مَا خَلَقْتُكَ.
“Setelah Adam berbuat dosa ia berkata kepada Tuhannya: ‘Ya Tuhanku, demi kebenaran Muhammad aku mohon ampunan-Mu’. Allah bertanya (sebenarnya Allah itu maha mengetahui semua lubuk hati manusia, Dia bertanya ini agar Malaikat dan makhluk lainnya yang belum tahu bisa mendengar jawaban Nabi Adam as.): ‘Bagaimana engkau mengenal Muhammad, padahal ia belum kuciptakan?!’ Adam menjawab: ‘Ya Tuhanku, setelah Engkau menciptakan aku dan meniupkan ruh kedalam jasadku, aku angkat kepalaku. Kulihat pada tiang-tiang ‘Arsy termaktub tulisan Laa ilaaha illallah Muhammad Rasulallah. Sejak saat itu aku mengetahui bahwa disamping nama-Mu, selalu terdapat nama makhluk yang paling Engkau cintai’. Allah menegaskan: ‘Hai Adam, engkau benar, ia memang makhluk yang paling Kucintai. Berdo’alah kepada-Ku bihaqqihi (demi kebenarannya), engkau pasti Aku ampuni. Kalau bukan karena Muhammad engkau tidak Aku ciptakan’ “.
Hadits diatas diriwayatkan oleh Al-Hafidz As-Suyuthi dan dibenarkan olehnya dalam Khasha’ishun Nabawiyyah dikemukakan oleh Al-Baihaqi didalam Dala ’ilun Nubuwwah, diperkuat kebenarannya oleh Al-Qisthilani dan Az-Zarqani di dalam Al-Mawahibul Laduniyyah jilid 11/62, disebutkan oleh As-Sabki di dalam Syifa’us Saqam, Al-Hafidz Al-Haitsami mengatakan bahwa hadits tersebut diriwayatkan oleh At-Thabarani dalam Al-Ausath dan oleh orang lain yang tidak dikenal dalam Majma’uz Zawa’id jilid V111/253.
Sedangkan hadits yang serupa/senada diatas yang sumbernya berasal dari Ibnu Abbas hanya pada nash hadits tersebut ada sedikit perbedaan yaitu dengan tambahan:
وَلَوْلآ مُحَمَّدٌ مَا خَلَقْتُ آدَمَ وَلآ الجَنَّةَ وَلآ النَّـارَ
‘Kalau bukan karena Muhammad Aku (Allah) tidak menciptakan Adam, tidak menciptakan surga dan neraka’.
Mengenai kedudukan hadits diatas para ulama berbeda pendapat. Ada yang menshohihkannya, ada yang menolak kebenaran para perawi yang meriwayatkannya, ada yang memandangnya sebagai hadits maudhu’, seperti Adz-Dzahabi dan lain-lain, ada yang menilainya sebagai hadits dha’if dan ada pula yang menganggapnya tidak dapat dipercaya. Jadi, tidak semua ulama sepakat mengenai kedudukan hadits itu. Akan tetapi Ibnu Taimiyah sendiri untuk persoalan hadits tersebut beliau menyebutkan dua hadits lagi yang olehnya dijadikan dalil. Yang pertama yaitu diriwayatkan oleh Abul Faraj Ibnul Jauzi dengan sanad Maisarah yang mengatakan sebagai berikut :
قُلْتُ يَا رَسُوْلُ اللهِ, مَتَى كُنْتَ نَبِيَّا ؟ قَالَ: لَمَّا خَلَقَ اللهُ الأرْضَ وَاسْتَوَى إلَى السَّمَاءِ فَسَوَّاهُنَّ سَبْعَ سَما وَا تٍ,
وَ خَلَقَ العَرْشَ كَتـَبَ عَلَى سَـاقِ العَـرْشِ مُحَمَّتدٌ رَسُوْلُ اللهِ  خَاتَمُ الأَنْبِـيَاءِ , وَ خَلَقَ اللهُ الجَنَّـةَ الَّتِي أسْكَـنَهَا
آدَمَ وَ حَوَّاءَ فَكـُتِبَ إسْمِي عَلَى الأبْـوَابِ وَالأوْرَاقِ وَالقـِبَابِ وَ الخِيَامِ وَ آدَمُ بَيْـنَ الرَُوْحِ وَ الجَسَدِ,فَلَـمَّا أحْيَاهُ اللهُ
تَعَالَى نَظَرَ إلَى العَـرْشِ , فَرَأى إسْمِي فَأخْبَرَهُ الله أنَّهُ سَيِّدُ وَلَدِكَ, فَلَمَّا غَرَّهُمَا الشَّيْطَانُ  تَابَا وَاسْتَشْفَعَا بِإسْمِي عَلَيْهِ
“Aku pernah bertanya pada Rasulallah saw.: ‘Ya Rasulallah kapankah anda mulai menjadi Nabi?’ Beliau menjawab: ‘Setelah Allah menciptakan tujuh petala langit, kemudian menciptakan ‘Arsy yang tiangnya termaktub Muham- mad Rasulallah khatamul anbiya (Muhammad pesuruh Allah terakhir para Nabi), Allah lalu menciptakan surga tempat kediaman Adam dan Hawa, kemudian menuliskan namaku pada pintu-pintunya, dedaunannya, kubah-kubahnya dan khemah-khemahnya. Ketika itu Adam masih dalam keadaan antara ruh dan jasad. Setelah Allah swt .menghidupkannya, ia memandang ke ‘Arsy dan melihat namaku. Allah kemudian memberitahu padanya bahwa dia (yang bernama Muhammad itu) anak keturunanmu yang termulia. Setelah keduanya (Adam dan Hawa) terkena bujukan setan mereka ber- taubat kepada Allah dengan minta syafa’at pada namaku’ ”.
Sedangkan hadits yang kedua berasal dari Umar Ibnul Khattab (diriwayatkan secara berangkai oleh Abu Nu’aim Al-Hafidz dalam Dala’ilun Nubuwwah oleh Syaikh Abul Faraj, oleh Sulaiman bin Ahmad, oleh Ahmad bin Rasyid, oleh Ahmad bin Said Al-Fihri, oleh Abdullah bin Ismail Al-Madani, oleh Abdurrahman bin Zaid bin Aslam dan ayahnya) yang mengatakan bahwa Nabi saw. berrsabda:
لَمَّا أصَابَ آدَمَ الخَطِيْئَةُ, رَفَعَ رَأسَهُ فَقَالَ: يَا رَبِّ بَحَقِّ مُحَمَّدٍ إلاَّ غَفَرْتَ لِي, فَأوْحَى إلَيْهِ, وَمَا مُحَمَّدٌ ؟
وَمَنْ مُحَمَّدٌ ؟ فَقَالَ: : يَا رَبِّ إنَّكَ لَمَّا أتْمَمْتَ خَلْقِي وَرَفَعْتُ رَأسِي إلَى عَرْشِكَ فَإذَا عَلَيْهِ مَكْتُوْبٌ
لإلَهِ إلااللهُ مُحَمَّدٌ رَسُـولُ اللهِ فَعَلِمْتُ أنَّهُ أكْرَمُ خَلْقِـكَ عَلَيْكَ إذْ قَرََرَنْتَ إسْمُهُ مَعَ اسْمِكَ فَقَالَ, نَعَمْ, قَدْ غَفَرْتُ لَكَ ,
وَهُوَ آخِرُ الأنْبِيَاءِمِنْ ذُرِّيَّتِكَ, وَلَوْلاَهُ مَا خَلَقْتُكَ
“Setelah Adam berbuat kesalahan ia mengangkat kepalanya seraya berdo’a: ‘Ya Tuhanku, demi hak/kebenaran Muhammad niscaya Engkau berkenan mengampuni kesalahanku’. Allah mewahyukan padanya: ‘Apakah Muhamad itu dan siapakah dia?’ Adam menjawab: ‘Ya Tuhanku, setelah Engkau menyempurnakan penciptaanku, kuangkat kepalaku melihat ke ‘Arsy, tiba-tiba kulihat pada “Arsy-Mu termaktub Laa ilaaha illallah Muhammad Rasulallah. Sejak itu aku mengetahui bahwa ia adalah makhluk termulia dalam pandangan-Mu, karena Engkau menempatkan namanya disamping nama-Mu’. Allah menjawab: ‘Ya benar, engkau Aku ampuni,. ia adalah penutup para Nabi dari keturunanmu. Kalau bukan karena dia, engkau tidak Aku ciptakan’ ”.
Yang lebih heran lagi dua hadits terakhir ini walaupun diriwayatkan dan di benarkan oleh Ibnu Taimiyyah, tapi beliau ini belum yakin bahwa hadits-hadits tersebut benar-benar pernah diucapkan oleh Rasulallah saw.. Namun Ibnu Taimiyyah toh membenarkan makna hadits ini dan menggunakannya untuk menafsirkan sanggahan terhadap sementara golongan yang meng- anggap makna hadits tersebut bathil/salah atau bertentangan dengan prinsip tauhid dan anggapan-anggapan lain yang tidak pada tempatnya. Ibnu Taimiy yah dalam Al-Fatawi jilid XI /96 berkata sebagai berikut:
“Muhammad Rasulallah saw. adalah anak Adam yang terkemuka, manusia yang paling afdhal (utama) dan paling mulia. Karena itulah ada orang yang mengatakan, bahwa karena beliaulah Allah menciptakan alam semesta, dan ada pula yang mengatakan, kalau bukan karena Muhammad saw. Allah swt. tidak menciptakan ‘Arsy, tidak Kursiy (kekuasaan Allah), tidak menciptakan langit, bumi, matahari dan bulan. Akan tetapi semuanya itu bukan ucapan Rasulallah saw, bukan hadits shohih dan bukan hadits dho’if, tidak ada ahli ilmu yang mengutipnya sebagai ucapan (hadits) Nabi saw. dan tidak dikenal berasal dari sahabat Nabi. Hadits tersebut merupakan pembicaraan yang tidak diketahui siapa yang mengucapkannya. Sekalipun demikian makna hadits tersebut tepat benar dipergunakan sebagai tafsir firman Allah swt.: “Dialah Allah yang telah menciptakan bagi kalian apa yang ada dilangit dan dibumi ” (S.Luqman : 20), surat Ibrahim 32-34 (baca suratnya dibawah ini–pen.) dan ayat-ayat Al-Qur’an lainnya yang menerangkan, bahwa Allah menciptakan seisi alam ini untuk kepentingan anak-anak Adam. Sebagai- mana diketahui didalam ayat-ayat tersebut terkandung berbagai hikmah yang amat besar, bahkan lebih besar daripada itu. Jika anak Adam yang paling utama dan mulia itu, Muhammad saw. yang diciptakan Allah swt. untuk suatu tujuan dan hikmah yang besar dan luas, maka kelengkapan dan kesempurnaan semua ciptaan Allah swt. berakhir dengan terciptanya Muhammad saw.“. Demikianlah Ibnu Taimiyyah.
Firman-Nya dalam  surat Ibrahim 32-34 yang dimaksud Ibnu Taimiyyah ialah:
اللهُ الَّذِى خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَ الاَرْضَ وَاَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً َفاَََخْرَجَ بِهِ
مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًالَكُمْ وَسَخَّرَ لَكُمُ الفُلْكَ لِتَجْرِيَ فِى البَحْرِ بِاَمْرِهِ وَسَخَّرَ لَكُمُ
الاَنْهَارَ َوَسَخَّرَ  لَكُمُ الشَّمْسَ وَالقَمَرَ دَائِبَيْنِ وَسَخَّرَ لَكُمُ الَّيْلَ وَالنَّهَارَ وَآتَاكُمْ مِنْ
كُلِّ مَا سَاَلْتُمُوْه وَاِنْ تَعُدُّوْا نِعْمَةَ اللهِ لاَ تُحْصُوْهَا اِنَّ الاِنْسَانَ لَظَلُوْمٌ كَفَّارٌ
“Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rizki untuk kalian, dan Dia telah menundukkan bahtera bagi kalian supaya bahtera itu dapat berlayar di lautan atas kehendak-Nya, dan Dia telah menundukkan sungai-sungai bagi kalian. Dan Dia jualah yang telah menundukkan bagi kalian matahari dan bulan yang terus menerus beredar dalam orbitnya masing-masing dan telah menundukkan bagi kalian siang dan malam. Dan Dia jugalah yang memberikan kepada kalian apa yang kalian perlukan/mohonkan. Dan jika kalian menghitung-hitung nikmat Allah, kalian tidak akan dapat mengetahui berapa banyaknya. Sesungguhnya manusia itu, sangat dzalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah)”.(QS Ibrahim :32-34). DAPAT DISIMPULKAN JUGA BAHWA IBNU TAYMIYAH MENGAKUI KONSEP “NUR MUHAMMAD” BAHWA NUR NABI MUHAMMAD ADALAH MAKHLUQ YANG PERTAMA KALI DICIPTAKAN. Dan perhatikan kebiasaan buruk dan kedustaan ibnu taymiyah (mati 721 H)  yang mengatakan “tidak ada ahli ilmu yang mengutipnya” padahal imam Thabrani (wafat 360 H) menulisnya dalam al -ausath, Abu Nu’aim (wafat 430 H)  dalam Dala’ilun Nubuwwah dsb.

B.  Kitab “al-Wafaa bi ahwaalil Musthofa s.a.w.” (Ibnu Qudamah al-Maqdisy 509 H)
Imam ‘Abdur Rahman bin ‘Ali yang terkenal dengan nama Imam Ibnul Jawzi ulama besar bermazhab Hanbali yang dilahirkan pada tahun 509/510H di Baghdad. Beliau adalah pengarang dan daie yang terkenal yang banyak menyedarkan umat serta ramai yang memeluk Islam di tangannya. Beliau adalah guru kepada Ibnu Qudamah al-Maqdisy yang masyhur itu.Tersebutlah dalam karya beliau yang berjodol “al-Wafaa bi ahwaalil Musthofa s.a.w.” akan kisah penciptaan Junjungan Nabi s.a.w. yakni penciptaan benih asal jasad baginda s.a.w. Kisahnya adalah sebagai berikut:-
عن كعب الأحبار قال: لما أراد الله تعالى أن يخلق محمداً صلى الله عليه وسلم أمر جبريل عليه السلام أن يأتيه فأتاه بالقبضة البيضاء التي هي موضع قبر رسول الله صلى الله عليه وسلم، فعجنت بماء التَّسْنيم، ثم غمست في أنهار الجنة، وطيف بها في السموات والأرض، فعرفت الملائكة محمداً وفَضْله قبل أن تعرف آدم، ثم كان نور محمد صلى الله عليه وسلم يُرى في غُرَّة جبهة آدم. وقيل له: يا آدم هذا سيد ولدك من الأنبياء والمرسلين.
فلما حملت حواء بشيت انتقل عن آدم إلى حواء، وكانت تلد في كل بطن ولدين إلا شيتاً، فإنها ولدته وحده، كرامة لمحمد صلى الله عليه وسلم. ثم لم يزل ينتقل من طاهر إلى طاهر إلى أن ولد صلى الله عليه وسلم.
Daripada Ka’ab al-Ahbar: ” Tatkala Allah ta’ala berkehendak untuk menciptakan Nabi Muhammad s.a.w., Dia memerintahkan Jibril a.s. untuk membawakan segenggam tanah putih yang merupakan tanah tempat Junjungan Nabi s.a.w. dimakamkan nanti. Maka diulilah tanah tersebut dengan air Tasniim (air syurga) lalu dicelupkan ke dalam sungai-sungai syurga. Setelah itu, dibawakan dia berkeliling ke serata langit dan bumi. Para malaikat pun mengenali Junjungan Nabi s.a.w. dan keutamaan baginda sebelum mereka mengenali Nabi Adam a.s. Ketika nur Junjungan Nabi s.a.w. kelihatan di kening dahi Nabi Adam a.s., dikatakan kepadanya: “Wahai Adam, inilah sayyid (penghulu) keturunanmu daripada para anbiya’ dan mursalin.
Tatkala Siti Hawa mengandungkan Nabi Syits berpindahlah Nur Muhammad tersebut kepada Siti Hawa. Siti Hawa yang biasanya melahirkan anak kembar setiap kali hamil, tetapi pada hamilnya ini dia hanya melahirkan seorang anak sahaja iaitu Nabi Syits kerana kemuliaan Junjungan Nabi s.a.w. Maka sentiasalah berpindah-pindah Nur Muhammad daripada seorang yang suci kepada orang suci yang lain sehinggalah baginda dilahirkan.
C. Syaikh Muhammad Mutawalli asy-Sya’raawi dalam “Anta tas-al wal Islam yajib”

Syaikh Muhammad Mutawalli asy-Sya’raawi dalam “Anta tas-al wal Islam yajib” , cetakan Darul Muslim, Qahirah, tahun 1982 / 1402, juzuk 1, mukasurat 41 telah ditanya berhubung an-Nur al-Muhammadiy dan permulaan penciptaan. Soalannya lebih kurang:-
  • Telah warid dalam hadis: “Bahawa Jabir bin ‘Abdullah r.a. telah bertanya kepada Junjungan Rasulullah s.a.w.: “Apa yang awal-awal diciptakan Allah ?”, lalu Junjungan bersabda:”Nur nabimu, wahai Jabir.” Bagaimana disesuaikan/diselarikan hadis ini dengan bahawa seawal makhluk itu Adam dan dia daripada tanah ?
Antara jawapan Syaikh Mutawalli:-
  • Daripada kesempurnaan yang mutlak dan dari segi tabi`ienya, bahawa Allah memulakan penciptaan dengan menciptakan makhluk yang tinggi, kemudian diambil daripadanya akan yang rendah. Tidaklah masuk akal, bahawa diciptakan bahan baku materi / material / unsur tanah (al-maadah ath-thiniyyah) dahulu kemudian baru Dia mencipta daripadanya Muhammad, kerana sesungguhnya insan yang paling tinggi adalah para rasul, dan yang tertinggi daripada mereka adalah Muhammad bin ‘Abdullah.
  • Oleh itu, tidak sah (dikatakan) bahawa diciptakan unsur materi kemudian diciptakan daripadanya Muhammad. Tak dapat tiada bahawa jadilah an-Nur al-Muhammadiy itulah yang wujud dahulu, dan daripada an-Nur al-Muhammadiy timbulnya segala sesuatu, dan jadilah hadis Jabir itu benar……
Jelas daripada jawapan tersebut Syaikh Mutawalli asy-Sya’raawi termasuk ulama yang menerima kebenaran hadis Jabir r.a. Sebenarnya sandaran untuk konsep Nur Muhammad ini bukanlah hanya pada hadis Jabir ini sahaja, tetapi ada lagi hadis-hadis yang dijadikan sandaran. Silalah tuan-tuan rujuk segala kitab karangan ulama kita. Bahkan, jika ada pun yang menolak tsabitnya hadis Jabir, maka tidak bermakna mereka juga menolak konsep Nur Muhammad. Oleh itu selayaknya kita menghormati perbezaan pendapat dengan lapang dada tanpa saling tuduh – menuduh, kerana jari yang kau tuding itu mungkin mencucuk mata para ulama yang kita disuruh memuliakan mereka.
D. Syaikh Ibnu Hajar al-Haitami al-Makki rhm. Dalam kitab “al-Fatawa al-Haditsiyyah” mukasurat 206

Ikhwah, aku nukilkan dari karangan-karangan al-Imam al-Faqih, Syaikhul Islam, pemuka ulama Syafi`i mutakhir, Mufti Makkah, sandaran umat, Shohibut Tohfah, Syaikh Ibnu Hajar al-Haitami al-Makki rhm. Dalam kitab “al-Fatawa al-Haditsiyyah” mukasurat 206 dinyatakan:-
  • (Dan telah ditanyai) akan orang yang mudah-mudahan Allah memanfaatkan dengannya (yakni Syaikh Ibnu Hajar rhm.) mengenai hadis “Seawal-awal yang diciptakan Allah adalah ruhku dan alam keseluruhannya dicipta daripada nurku, setiap sesuatu kembali kepada asalnya”, siapakah perawinya ?
  • (Maka dijawab) dengan perkataannya:- “Aku tidak mengetahui sesiapa yang meriwayatkannya sedemikian. Dan bahawasanya yang diriwayatkan dia ‘Abdur Razzaq adalah bahawasanya Junjungan s.a.w. bersabda bahawa Allah telah mencipta nur Muhammad sebelum segala sesuatu daripada nurNya.”
Imam besar ini juga dalam syarahnya bagi kitab Syama-il menyatakan antara lain:-
  • ….Dan diriwayatkan ‘Abdur Razzaq dengan sanadnya bahawa Junjungan Nabi s.a.w. bersabda: ” Sesungguhnya Allah telah mencipta Nur Muhammad sebelum segala sesuatu daripada nurNya (yakni nur yang dimiliki Allah) lalu dijadikan nur tersebut berputar dengan qudrahNya mengikut kehendak Allah dan belumlah ada pada waktu tersebut loh dan tidak ada qalam”, al-hadis dengan panjangnya (yakni hadis ini ada lagi sambungannya yang panjang………….Maka diketahui bahawasanya seawal-awal sesuatu yang dijadikan secara ithlaq ialah an-Nur al-Muhammadiy, kemudian air, kemudian arsy, kemudian qalam……….
Juga dalam mukhtasar beliau bagi kitab mawlidnya ‘an-Ni’matul Kubra ‘alal ‘alam bi mawlidi Sayyidi Waladi Adam”, beliau menyatakan:-
  • Ketahuilah bahawa Allah ta`ala telah memuliakan nabiNya s.a.w. dengan terdahulu/terawal nubuwwah baginda pada azali lagi. Dan yang sedemikian itu adalah kerana apabila Allah ta`ala berkehendak untuk mewujudkan makhluk, diwujudkanNya (yakni diciptakanNya) al-Haqiqatul Muhammadiyyah dari semata-mata nur sebelum wujud apa-apa ciptaan dari segala makhluk, kemudian diambil daripadanya sekalian alam….

E. Nur Muhammad s.a.w. – 18


Ikhwah, meh kita tengok karangan Tuan Guru Haji Wan Mohd. Shaghir berhubung Nur Muhammad. Aku rekomenkan kat ikhwah agar cari buku “Penutup Perdebatan Islam Alaf Kedua di Dunia Melayu” dan telaahlah dengan teliti. Tuan Guru bukan sahaja cerita pasal Nur Muhammad tetapi juga tentang Martabat Tujuh yang telah ditafsirkan secara songsang oleh geng sebelah. Aku kata jika Nur Muhammad dan Martabat Tujuh seperti apa yang ditafsirkan oleh Dr. Fattah dan geng-gengnya, maka itu memang songsang dan sesat, cuma masalahnya adakah tafsiran dan pemahaman Tuan Dr. tersebut menjadi pegangan para ulama kita ? Atau mereka mempunyai tafsiran yang jauh berbeza dari tafsiran geng-geng tersebut ? Kome kaji le bebetul ye. Seingat akulah, Tuan Guru Haji Daud Bukit Abal pun ada risalah yang membahaskan pegangan atau tafsiran Nur Muhammad yang songsang yang difahami oleh segelintir golongan sesat. Tetapi ini tidak bererti Allahyarham Tuan Guru tersebut menolak konsep Nur Muhammad menurut tafsiran para ulama yang terkemuka. Contohnya mudah sahaja, jika kita tolak tafsiran atau pemahaman rigid puak Wahhabi terhadap Islam atau pemahaman puak Syiah mengenai Islam, bukan ertinya kita menolak Islam, kerana Islam itu bukan semata-mata apa yang ditafsirkan oleh geng anak Pak Wahhab tersebut atau geng Khomeini.
Berhubung Nur Muhammad, Tuan Guru Haji Wan Shaghir membahas dengan panjang lebar, kome carilah bukunya. Antara tulisannya pada halaman 45 – 46 :-
  • ….Beberapa orang ulama dunia Islam yang terkenal di antara mereka ada mencatat sanad yang di dalamnya terdapat nama Syeikh Ibnu Hajar al-’Asqalani. Sanad yang tersebut sampai kepada ‘Abdur Razzaq. Ada sanad ‘am mengenai beberapa bidang keilmuan, dan ada pula sanad khash tentang hadis, termasuk hadis Nur Muhammad. Di antara mereka yang mempunyai sanad kepada Syeikh Ibnu Hajar al-’Asqalani (wafat 852H/1448M) ialah: Syeikh Hasan al-Masyath, Saiyid ‘Ali al-Maliki, Syeikh Muhammad Mahfuzh bin ‘Abdullah at-Tarmasi (1285H/1868M – 1385H/1965M), Syeikh Muhammad Mukhtar bin ‘Atharid Bogor (1278H/1861M – 1374H/1954M), Syeikh Ahmad bin Muhammad Zain al-Fathani (1272H/1856M – 1325H/1908M), Saiyid Bakri bin Muhammad Zainal ‘Abidin Syatha, Saiyid Ahmad bin Zaini Dahlan…..dan lain-lain.
  • Setelah melalui beberapa nama bertemu pada Syeikh ‘Abdullah asy-Syarqawi (1150H/1737M – 1227H/1821M), ia terima dari Syeikh Muhammad bin Salim al-Hifnawi/Hifni (Syaikhul Azhar 1173H/1715M – 1181H/1767M), ia terima dari ‘Abdul ‘Aziz az-Ziyadi, ia terima dari Syeikh Muhammad al-Babili, ia terima dari Syeikh Najamuddin Muhammad al-’Aithi, ia terima dari Qadhi Zakaria al-Anshari, ia terima dari Syeikh Ibnu Hajar al-’Asqalani (773H/1371M – 852H/1448M), ia terima dari Syeikh Abil Faraj ‘Abdur Rahman al-Ghazzi, ia terima dari Abin Nun Yunus bin Ibrahim ad-Dabbus, ia terima dari Abi Hasan ‘Ali, ia terima dari Muhammad bin Nashir as-Salami, ia terima dari ‘Abdul Wahhab bin Muhammad bin Mandah, ia terima dari Abil Fadhal Muhammad al-Kaukabi, ia terima dari Abil Qasim ath-Thabrani, ia terima dari Ya’qub Ishaq bin Ibrahim al-Mirwazi al-Hanzhali, ia terima dari ‘Abdur Razzaq bin Hammam bin Nafi dengan sanad sehingga sampai kepada Jabir bin ‘Abdullah.
Selain menjawab tuduhan puak-puak menentang kewujudan Nur Muhammad, Tuan Guru turut menyenaraikan beberapa nama ulama terkemuka yang membicarakan Nur Muhammad dalam karangan-karangan mereka, antaranya:-
  1. Syaikh ‘Abdul Qadir al-Jilani, Sulthanul Awliya`;
  2. Syeikh ‘Abdullah ‘Arif;
  3. Imam as-Sayuthi;
  4. Imam al-Qasthalani;
  5. Imam al-Zarqani;
  6. Sayyidisy Syaikh Ja’far al-Barzanji;
  7. Syaikh Yusuf an-Nabhani;
  8. Syaikh Nawawi al-Bantani;
  9. Syaikh Nuruddin ar-Raniri;
  10. Syaikh ‘Abdur Rauf al-Fansuri / Singkel;
  11. Syaikh ‘Abdus Shomad al-Falimbani;
  12. Syaikh Muhammad Nafis al-Banjari;
  13. Syaikh Daud al-Fathani;
  14. Tuan Guru Haji Ahmad bin Haji Yusuf bin ‘Abdul Halim Kelantan;
  15. ‘Allamah Abu ‘Abdullah asy-Syaikh Muhammad bin Ahmad ‘Ilisy;
  16. ‘Allamah Syaikh Muhammad Bashri al-Manzalawi;
  17. Sayyid Utsman bin ‘Abdullah BinYahya;
  18. Syaikh Muhammad bin Ismail Daudi al-Fathani;
  19. Syaikh Zainal ‘Abidin al-Fathani, Tuan Minal;
  20. Syaikh Ahmad bin Muhammad Zain al-Fathani;
  21. Syaikh Utsman bin Syihabuddin al-Funtiani;
  22. Syaikh ‘Abdul Hamid bin ‘Ali Kudus;
Bagi menutup tulisannya, Tuan Guru menyebut:-
  • Perlulah diperhatikan bahawa dari keterangan di atas terdapat tiga buah hadis dari tiga orang sahabat Nabi Muhammad s.a.w. Mereka ialah: Sayyidina ‘Ali bin Abi Thalib k.w.w.r.a. (wafat 40H/661M), ‘Abdullah bin ‘Abbas r.a. (wafat 68H/687M) dan Jabir bin ‘Abdullah r.a. (wafat 78H/697M). Ada lagi beberapa hadis mengenai Nur Muhammad atau yang sama maksud dengannya, yang berasal dari sahabat yang lain, di antaranya, yang berasal dari: Salman al-Farsi r.a., Abu Zar al-Ghifari r.a., dll, termasuk juga Abu Hurairah r.a.
  • Oleh itu teori para pengkritik hadis Nur Muhammad atau hadis yang sama maksud dengannya, dengan tuduhan melulu dan berbagai-bagai adalah teori yang bersifat khayal.
  • Di antara mereka ada yang mengkhayal bahawa hadis Nur Muhammad adalah doktrin Syi`ah, golongan ini mungkin lebih banyak mempelajari Mazhab Syi`ah atau hidup dilingkungan mazhab itu ketimbang belajar secara mendalam Islam cara tradisional.
  • Yang lain mengkhayal pula, bahawa hadis Nur Muhammad adalah doktrin berasal ajaran Greek ajaran Platonisme, sama dengan yang di atas golongan ini mungkin lebih banyak mempelajari ajaran Greek-Platonisme atau hidup dilingkungan itu ketimbang belajar secara mendalam Islam cara tradisional.
  • Yang lain mengkhayal pula hadis Nur Muhammad adalah doktrin berasal dari ajaran trinitas dalam Kristian.
  • Yang lain pula mengkhayal berasal dari ajaran al-Hallaj, yang lain pula mengkhayal berasal dari Abi Yazid al-Bisthami, dll.
  • Di antara mereka ada menganggap bahawa hadis Nur Muhammad atau hadis yang sama maksud dengannya, adalah hadis maudhu`(hadis palsu). Penilaian mereka juga tidak sepakat atau tidak sependapat kerana selain yang berpendapat hadis maudhu`, dari golongan mereka pula ada yang berpendapat hadis dhaif, dan lain-lain. Sudah maklum bahawa pengertian atau takrif hadis maudhu` dengan hadis dhaif adalah tidak sama. Sesuatu penilaian yang bersifat teori maka bukanlah merupakan hujah atau hukum qath`ie, apatah lagi jika masih terdapat pertentangan atau kontroversi antara yang satu dengan yang lainnya.
  • Oleh itu sekian banyak kitab yang dikarang oleh sekian ramai ulama Ahlis Sunnah wal Jama`ah yang membicarakan hadis Nur Muhammad atau hadis yang sama maksud dengannya, perlu mendapat pembelaan.
Allahumma sholli wa sallim ‘ala Nuril Anwar.

F. Quthubul Habib ‘Ali bin Muhammad bin Husain al-Habsyi rhm. dalam mawlidnya “Simthud Durar”

Quthubul Habib ‘Ali bin Muhammad bin Husain al-Habsyi rhm. dalam mawlidnya “Simthud Durar” menulis antara lain:-
  • ……Telah sampai kepada kami dalam hadits-hadits yang masyhur, bahawa sesuatu yang mula pertama dicipta Allah ialah nur yang tersimpan dalam pribadi ini (yakni Junjungan Nabi s.a.w.). Maka nur insan tercinta inilah makhluk pertama muncul di alam semesta, daripadanya bercabang seluruh wujud ini, ciptaan demi ciptaan, yang baru datangnya ataupun yang sebelumnya (yang yang terlebih dahulu datangnya dari yang kemudian).
  • Sebagaimana diriwayatkan Abdur Razzaaq dengan sanadnya sampai kepada Jaabir bin ‘Abdullah al-Anshaari (semoga ridha Allah atas keduanya): “Bahawasanya ia pernah bertanya: “Demi ayah dan ibuku, ya Rasulullah, Beritahukanlah kepadaku tentang suatu yang dicipta Allah sebelum segalanya yang lain (yakni sebelum segala makhluk yang lain). Jawab baginda: “Wahai Jabir, sesungguhnya Allah telah menciptakan nur nabimu Muhammad s.a.w. dari nurNya sebelum sesuatu yang lain.”
Ikhwah, jika dikatakan bahawa Allah menciptakan nur Muhammad ini daripada nurNya, maka yang dimaksudkan di sini adalah nur yang menjadi milik Allah, bukannya sebahagian daripada zat Allah yang Maha Suci dan Maha Esa daripada berjuzuk-juzuk dan berpisah-pisah. Inilah yang dikatakan idhafah tasyrifiyyah iaitu suatu sandaran untuk memuliakan sesuatu. Sama seperti kita sandarkan bait (rumah) kepada Allah seperti BaitUllah (rumah Allah) atau ka’baatUllah (ka’bah Allah) dan sebagainya. Sebahagian golongan tersesat kerana beranggapan bahawa nur Muhammad ini asalnya adalah sebahagian dari zat Allah kerana beranggapan bahawa nur itu adalah sebahagian daripada zat Allah. Ini menjadikan pegangan mereka seumpama pegangan nasrani terhadap ketuhanan Nabi Isa a.s. Jelas ini bukanlah pegangan kita Ahlus Sunnah wal Jama`ah. Kita berpegang bahawa Nur Muhammad ini adalah makhluk yang diciptakan Allah dan tidak lebih daripada itu walau betapa hebat dan agungnya ciptaan ini.
Apa yang jelas, para ulama daripada kalangan habaib Bani ‘Alawi pada umumnya menerima dan berpegang dengan hadits tersebut sebagaimana termaktub dalam karya Habib ‘Ali bin Muhammad al-Habsyi yang termasyhur “Simthud Durar” yang menyatakan sebagai berikut:-
G. ”Sabilul Iddikar wal I’tibaar” karangan Imam al-Haddad

Posting kali ini aku hendak memperkenalkan ikhwah kepada karangan Imam al-Haddad yang masyhur dengan jodol “Sabilul Iddikar wal I’tibaar“. Satu karangan yang cukup bernilai. Karangan yang membicarakan dan memperjelaskan mengenai fasa-fasa kehidupan yang telah dan akan dilalui oleh seseorang insan bermula di alam arwah sejak dari penciptaan Nabi Adam a.s. sehinggalah ke kehidupan yang kekal abadi di Syurga atau di neraka (moga-moga Allah jadikan kita sekalian dan ibubapa kita dari kalangan ahli syurga dan bukannya ahli neraka, aaaamiiin). Kitab ini telah diterjemahkan dalam Bahasa Melayu oleh almarhum Habib Ahmad BinSemait rhm. dengan jodol “Peringatan Tentang Umur Insan” dalam edisi Rumi dan Jawi. Juga diterjemahkan dalam Bahasa Inggeris oleh Dr. Mostafa al-Badawi (murid Habib Ahmad Masyhur al-Haddad rhm.) dengan jodol “The Lives of Man“.
Di sini aku nak nukilkan sedikit tulisan Imam ini berhubung Nur Muhammad s.a.w., di mana dinyatakan pada halaman 16:-
Dan telah diriwayat bahawasanya Nabi Adam a.s. pernah mendengar Nur Junjungan Rasulullah s.a.w. bertasbih di tulang belakangnya (di sulbinya yakni pada ketika itu Nur Muhammad atau roh Junjungan Nabi s.a.w. berada dalam sulbi Nabi Adam a.s.) seperti bunyi kibasan burung. Maka tatkala Siti Hawa mengandungkan puteranya Nabi Syits alaihimas salam, nur itu berpindah kepada Siti Hawa, kemudian kepada Nabi Syits a.s. pula. Kemudian berterusan nur tersebut berpindah-pindah kepada sulbi-sulbi yang suci dan rahim-rahim yang cemerlang, sehingga lahir Junjungan Rasulullah s.a.w. daripada (pernikahan) kedua ibubapa baginda yang mulia. Tidaklah pernah terkena Junjungan Rasulullah s.a.w. akan sesuatu kekotoran jahiliyyah dan kekejiannya, walaupun ketika itu berlaku pada kalangan mereka (yakni kalangan umat-umat terdahulu) pernikahan-pernikahan yang dianggap batil, maka Allah telah mensucikan baginda daripadanya, sebagaimana disabdakan baginda ‘alaihis sholatu was salam: “Aku dilahirkan daripada nikah dan bukan daripada perzinaan.”
Sayyidina Ibnu ‘Abbas r.’anhuma dalam mentafsirkan firman Allah ta`ala:

الَّذِي يَرَاكَ حِينَ تَقُومُ وَتَقَلُّبَكَ فِي السَّاجِدِينَ
menyatakan bahawa maksud ayat tersebut ialah berpindah-pindahnya (nur/ruh) Junjungan Nabi ‘alaihis sholatu was salam daripada sulbi seorang nabi kepada nabi yang lain seperti Nabi Ismail, Nabi Ibrahim, Nabi Nuh, Nabi Syits dan Nabi Adam ‘alaihimus salam. Dalam hal ini (yakni dalam hal berpindah-pindahnya nur/roh Junjungan Nabi s.a.w. daripada sulbi seorang nabi kepada sulbi nabi yang lain) tidaklah ada khilaf padanya.
َ

H. Nur Muhammad 20 – Syaikh Wan `Ali Kutan

Syaikh Wan ‘Ali bin Wan `Abdul Rahman bin Wan `Abdul Ghafur al-Kelantani atau lebih dikenali dengan gelaran Syaikh Wan `Ali Kutan, adalah ulama terkenal kelahiran Kelantan dan mengajar di Masjidil Haram Makkah. Beliau adalah gurunya para ulama kita terdahulu seperti Syaikh Muhammad Yusuf bin Ahmad (Tok Kenali), Syaikh Ahmad bin Muhammad Said al-Linggi ( mufti pertama Negeri Sembilan, Syaikh `Abdullah Fahim (mufti pertama Pulau Pinang), Syaikh Ismail bin Haji Senik (Tok Kemuning), Syaikh `Uthman bin Haji Muhammad (Tok Bachok), Dato` Laksamana Haji Muhammad bin Haji Muhammad Said Khatib, Dato` Perdana Menteri Paduka Raja Haji Nik Mahmud bin Ismail. Tuan Guru Haji Wan Muhammad Shoghir telah menulis biografi beliau dan ikhwah bolehlah mencari tulisan beliau tersebut atau baca di laman saudara MuhibMahbub.
Antara karya Syaikh Wan `Ali Kutan yang masyhur dan tersebar luas adalah kitab “al-Jawharul Mawhub wa Munabbihaatul Quluub“. Pada mukaddimah kitab tersebut beliau memuji-muji Allah antara lain kerana Dia telah mencipta daripada nurNya (yakni nur yang menjadi miliknya) akan nur kekasihNya Junjungan Nabi Muhammad SAW 2,000 tahun sebelum diciptakanNya Nabi Adam AS, lalu diciptakan daripada nur kekasihNya tersebut segala sesuatu daripada arsy sehinggalah ke bumi. Penciptaan segala sesuatu daripada Nur Muhammad itu boleh difahami dengan erti bahawa penciptaan segala yang ada ini adalah dikeranakan oleh penciptaan nur Junjungan SAW yang merupakan seawal-awal makhluk yang dijadikan Allah. Silalah ikhwah semak segala entri yang sudah-sudah berhubung nur Muhammad SAW, antaranya kepada pernyataan Tok Syaikh Isma`il bin ‘Abdul Qadir al-Fathani (Pak Da `Eil al-Fathani) yang menyebut dalam nota no.4 di tepi kitab karangannya yang berjodol “Tabshiratul Adaani bi alhaan Bakurah al-Aamaani” mukasurat 9, antara lain:-
  • …. Adapun barang yang termasyhur bahawasanya dijadikan beberapa banyak alam ini daripada Nur Nabi kita s.a.w., maka yang zahir bagi hamba bahawasanya bukanlah dijadikan suku-suku nur itu akan alam, hanya dimulakan dia daripadanya dan dijadikan dia dengan sebabnya.
Oleh itu sebelum memberikan tafsiran-tafsiran yang entah apa-apa atau menolak mentah-mentah segala yang berkaitan dengan Nur Muhammad, eloklah lihat dan kaji tafsiran dan pandangan para ulama kita yang terdahulu. Dan jika pun tidak bersetuju, maka janganlah bersikap fanatik yang hanya mau benar sendiri dalam isu yang boleh dianggap sebagai khilaf yang diiktibar pada kalangan ulama, kerana di samping terdapat ulama yang menolaknya, wujud ramai lagi ulama yang menerimanya. Jadi bertasamuhlah, jangan bermudah-mudah menuduh syirik, karut dan khurafat.

Nur Muhammad Menurut Al-qur’an & Hadits

Kitab “al-Wafaa bi ahwaalil Musthofa s.a.w.” (Ibnu Qudamah al-Maqdisy 509 H)


Imam ‘Abdur Rahman bin ‘Ali yang terkenal dengan nama Imam Ibnul Jawzi ulama besar bermazhab Hanbali yang dilahirkan pada tahun 509/510H di Baghdad. Beliau adalah pengarang dan daie yang terkenal yang banyak menyedarkan umat serta ramai yang memeluk Islam di tangannya. Beliau adalah guru kepada Ibnu Qudamah al-Maqdisy yang masyhur itu.Tersebutlah dalam karya beliau yang berjodol “al-Wafaa bi ahwaalil Musthofa s.a.w.” akan kisah penciptaan Junjungan Nabi s.a.w. yakni penciptaan benih asal jasad baginda s.a.w. Kisahnya adalah sebagai berikut:-
عن كعب الأحبار قال: لما أراد الله تعالى أن يخلق محمداً صلى الله عليه وسلم أمر جبريل عليه السلام أن يأتيه فأتاه بالقبضة البيضاء التي هي موضع قبر رسول الله صلى الله عليه وسلم، فعجنت بماء التَّسْنيم، ثم غمست في أنهار الجنة، وطيف بها في السموات والأرض، فعرفت الملائكة محمداً وفَضْله قبل أن تعرف آدم، ثم كان نور محمد صلى الله عليه وسلم يُرى في غُرَّة جبهة آدم. وقيل له: يا آدم هذا سيد ولدك من الأنبياء والمرسلين.
فلما حملت حواء بشيت انتقل عن آدم إلى حواء، وكانت تلد في كل بطن ولدين إلا شيتاً، فإنها ولدته وحده، كرامة لمحمد صلى الله عليه وسلم. ثم لم يزل ينتقل من طاهر إلى طاهر إلى أن ولد صلى الله عليه وسلم.
Daripada Ka’ab al-Ahbar: ” Tatkala Allah ta’ala berkehendak untuk menciptakan Nabi Muhammad s.a.w., Dia memerintahkan Jibril a.s. untuk membawakan segenggam tanah putih yang merupakan tanah tempat Junjungan Nabi s.a.w. dimakamkan nanti. Maka diulilah tanah tersebut dengan air Tasniim (air syurga) lalu dicelupkan ke dalam sungai-sungai syurga. Setelah itu, dibawakan dia berkeliling ke serata langit dan bumi. Para malaikat pun mengenali Junjungan Nabi s.a.w. dan keutamaan baginda sebelum mereka mengenali Nabi Adam a.s. Ketika nur Junjungan Nabi s.a.w. kelihatan di kening dahi Nabi Adam a.s., dikatakan kepadanya: “Wahai Adam, inilah sayyid (penghulu) keturunanmu daripada para anbiya’ dan mursalin.
Tatkala Siti Hawa mengandungkan Nabi Syits berpindahlah Nur Muhammad tersebut kepada Siti Hawa. Siti Hawa yang biasanya melahirkan anak kembar setiap kali hamil, tetapi pada hamilnya ini dia hanya melahirkan seorang anak sahaja iaitu Nabi Syits kerana kemuliaan Junjungan Nabi s.a.w. Maka sentiasalah berpindah-pindah Nur Muhammad daripada seorang yang suci kepada orang suci yang lain sehinggalah baginda dilahirkan.
Syaikh Muhammad Mutawalli asy-Sya’raawi dalam “Anta tas-al wal Islam yajib”

Syaikh Muhammad Mutawalli asy-Sya’raawi dalam “Anta tas-al wal Islam yajib” , cetakan Darul Muslim, Qahirah, tahun 1982 / 1402, juzuk 1, mukasurat 41 telah ditanya berhubung an-Nur al-Muhammadiy dan permulaan penciptaan. Soalannya lebih kurang:-
  • Telah warid dalam hadis: “Bahawa Jabir bin ‘Abdullah r.a. telah bertanya kepada Junjungan Rasulullah s.a.w.: “Apa yang awal-awal diciptakan Allah ?”, lalu Junjungan bersabda:”Nur nabimu, wahai Jabir.” Bagaimana disesuaikan/diselarikan hadis ini dengan bahawa seawal makhluk itu Adam dan dia daripada tanah ?
Antara jawapan Syaikh Mutawalli:-
  • Daripada kesempurnaan yang mutlak dan dari segi tabi`ienya, bahawa Allah memulakan penciptaan dengan menciptakan makhluk yang tinggi, kemudian diambil daripadanya akan yang rendah. Tidaklah masuk akal, bahawa diciptakan bahan baku materi / material / unsur tanah (al-maadah ath-thiniyyah) dahulu kemudian baru Dia mencipta daripadanya Muhammad, kerana sesungguhnya insan yang paling tinggi adalah para rasul, dan yang tertinggi daripada mereka adalah Muhammad bin ‘Abdullah.
  • Oleh itu, tidak sah (dikatakan) bahawa diciptakan unsur materi kemudian diciptakan daripadanya Muhammad. Tak dapat tiada bahawa jadilah an-Nur al-Muhammadiy itulah yang wujud dahulu, dan daripada an-Nur al-Muhammadiy timbulnya segala sesuatu, dan jadilah hadis Jabir itu benar……
Jelas daripada jawapan tersebut Syaikh Mutawalli asy-Sya’raawi termasuk ulama yang menerima kebenaran hadis Jabir r.a. Sebenarnya sandaran untuk konsep Nur Muhammad ini bukanlah hanya pada hadis Jabir ini sahaja, tetapi ada lagi hadis-hadis yang dijadikan sandaran. Silalah tuan-tuan rujuk segala kitab karangan ulama kita. Bahkan, jika ada pun yang menolak tsabitnya hadis Jabir, maka tidak bermakna mereka juga menolak konsep Nur Muhammad. Oleh itu selayaknya kita menghormati perbezaan pendapat dengan lapang dada tanpa saling tuduh – menuduh, kerana jari yang kau tuding itu mungkin mencucuk mata para ulama yang kita disuruh memuliakan mereka.
Syaikh Ibnu Hajar al-Haitami al-Makki rhm. Dalam kitab “al-Fatawa al-Haditsiyyah” mukasurat 206
Ikhwah, aku nukilkan dari karangan-karangan al-Imam al-Faqih, Syaikhul Islam, pemuka ulama Syafi`i mutakhir, Mufti Makkah, sandaran umat, Shohibut Tohfah, Syaikh Ibnu Hajar al-Haitami al-Makki rhm. Dalam kitab “al-Fatawa al-Haditsiyyah” mukasurat 206 dinyatakan:-
  • (Dan telah ditanyai) akan orang yang mudah-mudahan Allah memanfaatkan dengannya (yakni Syaikh Ibnu Hajar rhm.) mengenai hadis “Seawal-awal yang diciptakan Allah adalah ruhku dan alam keseluruhannya dicipta daripada nurku, setiap sesuatu kembali kepada asalnya”, siapakah perawinya ?
  • (Maka dijawab) dengan perkataannya:- “Aku tidak mengetahui sesiapa yang meriwayatkannya sedemikian. Dan bahawasanya yang diriwayatkan dia ‘Abdur Razzaq adalah bahawasanya Junjungan s.a.w. bersabda bahawa Allah telah mencipta nur Muhammad sebelum segala sesuatu daripada nurNya.”
Imam besar ini juga dalam syarahnya bagi kitab Syama-il menyatakan antara lain:-
  • ….Dan diriwayatkan ‘Abdur Razzaq dengan sanadnya bahawa Junjungan Nabi s.a.w. bersabda: ” Sesungguhnya Allah telah mencipta Nur Muhammad sebelum segala sesuatu daripada nurNya (yakni nur yang dimiliki Allah) lalu dijadikan nur tersebut berputar dengan qudrahNya mengikut kehendak Allah dan belumlah ada pada waktu tersebut loh dan tidak ada qalam”, al-hadis dengan panjangnya (yakni hadis ini ada lagi sambungannya yang panjang………….Maka diketahui bahawasanya seawal-awal sesuatu yang dijadikan secara ithlaq ialah an-Nur al-Muhammadiy, kemudian air, kemudian arsy, kemudian qalam……….
Juga dalam mukhtasar beliau bagi kitab mawlidnya ‘an-Ni’matul Kubra ‘alal ‘alam bi mawlidi Sayyidi Waladi Adam”, beliau menyatakan:-
  • Ketahuilah bahawa Allah ta`ala telah memuliakan nabiNya s.a.w. dengan terdahulu/terawal nubuwwah baginda pada azali lagi. Dan yang sedemikian itu adalah kerana apabila Allah ta`ala berkehendak untuk mewujudkan makhluk, diwujudkanNya (yakni diciptakanNya) al-Haqiqatul Muhammadiyyah dari semata-mata nur sebelum wujud apa-apa ciptaan dari segala makhluk, kemudian diambil daripadanya sekalian alam….

Nur Muhammad s.a.w. – 18


Ikhwah, meh kita tengok karangan Tuan Guru Haji Wan Mohd. Shaghir berhubung Nur Muhammad. Aku rekomenkan kat ikhwah agar cari buku “Penutup Perdebatan Islam Alaf Kedua di Dunia Melayu” dan telaahlah dengan teliti. Tuan Guru bukan sahaja cerita pasal Nur Muhammad tetapi juga tentang Martabat Tujuh yang telah ditafsirkan secara songsang oleh geng sebelah. Aku kata jika Nur Muhammad dan Martabat Tujuh seperti apa yang ditafsirkan oleh Dr. Fattah dan geng-gengnya, maka itu memang songsang dan sesat, cuma masalahnya adakah tafsiran dan pemahaman Tuan Dr. tersebut menjadi pegangan para ulama kita ? Atau mereka mempunyai tafsiran yang jauh berbeza dari tafsiran geng-geng tersebut ? Kome kaji le bebetul ye. Seingat akulah, Tuan Guru Haji Daud Bukit Abal pun ada risalah yang membahaskan pegangan atau tafsiran Nur Muhammad yang songsang yang difahami oleh segelintir golongan sesat. Tetapi ini tidak bererti Allahyarham Tuan Guru tersebut menolak konsep Nur Muhammad menurut tafsiran para ulama yang terkemuka. Contohnya mudah sahaja, jika kita tolak tafsiran atau pemahaman rigid puak Wahhabi terhadap Islam atau pemahaman puak Syiah mengenai Islam, bukan ertinya kita menolak Islam, kerana Islam itu bukan semata-mata apa yang ditafsirkan oleh geng anak Pak Wahhab tersebut atau geng Khomeini.
Berhubung Nur Muhammad, Tuan Guru Haji Wan Shaghir membahas dengan panjang lebar, kome carilah bukunya. Antara tulisannya pada halaman 45 – 46 :-
  • ….Beberapa orang ulama dunia Islam yang terkenal di antara mereka ada mencatat sanad yang di dalamnya terdapat nama Syeikh Ibnu Hajar al-‘Asqalani. Sanad yang tersebut sampai kepada ‘Abdur Razzaq. Ada sanad ‘am mengenai beberapa bidang keilmuan, dan ada pula sanad khash tentang hadis, termasuk hadis Nur Muhammad. Di antara mereka yang mempunyai sanad kepada Syeikh Ibnu Hajar al-‘Asqalani (wafat 852H/1448M) ialah: Syeikh Hasan al-Masyath, Saiyid ‘Ali al-Maliki, Syeikh Muhammad Mahfuzh bin ‘Abdullah at-Tarmasi (1285H/1868M – 1385H/1965M), Syeikh Muhammad Mukhtar bin ‘Atharid Bogor (1278H/1861M – 1374H/1954M), Syeikh Ahmad bin Muhammad Zain al-Fathani (1272H/1856M – 1325H/1908M), Saiyid Bakri bin Muhammad Zainal ‘Abidin Syatha, Saiyid Ahmad bin Zaini Dahlan…..dan lain-lain.
  • Setelah melalui beberapa nama bertemu pada Syeikh ‘Abdullah asy-Syarqawi (1150H/1737M – 1227H/1821M), ia terima dari Syeikh Muhammad bin Salim al-Hifnawi/Hifni (Syaikhul Azhar 1173H/1715M – 1181H/1767M), ia terima dari ‘Abdul ‘Aziz az-Ziyadi, ia terima dari Syeikh Muhammad al-Babili, ia terima dari Syeikh Najamuddin Muhammad al-‘Aithi, ia terima dari Qadhi Zakaria al-Anshari, ia terima dari Syeikh Ibnu Hajar al-‘Asqalani (773H/1371M – 852H/1448M), ia terima dari Syeikh Abil Faraj ‘Abdur Rahman al-Ghazzi, ia terima dari Abin Nun Yunus bin Ibrahim ad-Dabbus, ia terima dari Abi Hasan ‘Ali, ia terima dari Muhammad bin Nashir as-Salami, ia terima dari ‘Abdul Wahhab bin Muhammad bin Mandah, ia terima dari Abil Fadhal Muhammad al-Kaukabi, ia terima dari Abil Qasim ath-Thabrani, ia terima dari Ya’qub Ishaq bin Ibrahim al-Mirwazi al-Hanzhali, ia terima dari ‘Abdur Razzaq bin Hammam bin Nafi dengan sanad sehingga sampai kepada Jabir bin ‘Abdullah.
Selain menjawab tuduhan puak-puak menentang kewujudan Nur Muhammad, Tuan Guru turut menyenaraikan beberapa nama ulama terkemuka yang membicarakan Nur Muhammad dalam karangan-karangan mereka, antaranya:-
  1. Syaikh ‘Abdul Qadir al-Jilani, Sulthanul Awliya`;
  2. Syeikh ‘Abdullah ‘Arif;
  3. Imam as-Sayuthi;
  4. Imam al-Qasthalani;
  5. Imam al-Zarqani;
  6. Sayyidisy Syaikh Ja’far al-Barzanji;
  7. Syaikh Yusuf an-Nabhani;
  8. Syaikh Nawawi al-Bantani;
  9. Syaikh Nuruddin ar-Raniri;
  10. Syaikh ‘Abdur Rauf al-Fansuri / Singkel;
  11. Syaikh ‘Abdus Shomad al-Falimbani;
  12. Syaikh Muhammad Nafis al-Banjari;
  13. Syaikh Daud al-Fathani;
  14. Tuan Guru Haji Ahmad bin Haji Yusuf bin ‘Abdul Halim Kelantan;
  15. ‘Allamah Abu ‘Abdullah asy-Syaikh Muhammad bin Ahmad ‘Ilisy;
  16. ‘Allamah Syaikh Muhammad Bashri al-Manzalawi;
  17. Sayyid Utsman bin ‘Abdullah BinYahya;
  18. Syaikh Muhammad bin Ismail Daudi al-Fathani;
  19. Syaikh Zainal ‘Abidin al-Fathani, Tuan Minal;
  20. Syaikh Ahmad bin Muhammad Zain al-Fathani;
  21. Syaikh Utsman bin Syihabuddin al-Funtiani;
  22. Syaikh ‘Abdul Hamid bin ‘Ali Kudus;
Bagi menutup tulisannya, Tuan Guru menyebut:-
  • Perlulah diperhatikan bahawa dari keterangan di atas terdapat tiga buah hadis dari tiga orang sahabat Nabi Muhammad s.a.w. Mereka ialah: Sayyidina ‘Ali bin Abi Thalib k.w.w.r.a. (wafat 40H/661M), ‘Abdullah bin ‘Abbas r.a. (wafat 68H/687M) dan Jabir bin ‘Abdullah r.a. (wafat 78H/697M). Ada lagi beberapa hadis mengenai Nur Muhammad atau yang sama maksud dengannya, yang berasal dari sahabat yang lain, di antaranya, yang berasal dari: Salman al-Farsi r.a., Abu Zar al-Ghifari r.a., dll, termasuk juga Abu Hurairah r.a.
  • Oleh itu teori para pengkritik hadis Nur Muhammad atau hadis yang sama maksud dengannya, dengan tuduhan melulu dan berbagai-bagai adalah teori yang bersifat khayal.
  • Di antara mereka ada yang mengkhayal bahawa hadis Nur Muhammad adalah doktrin Syi`ah, golongan ini mungkin lebih banyak mempelajari Mazhab Syi`ah atau hidup dilingkungan mazhab itu ketimbang belajar secara mendalam Islam cara tradisional.
  • Yang lain mengkhayal pula, bahawa hadis Nur Muhammad adalah doktrin berasal ajaran Greek ajaran Platonisme, sama dengan yang di atas golongan ini mungkin lebih banyak mempelajari ajaran Greek-Platonisme atau hidup dilingkungan itu ketimbang belajar secara mendalam Islam cara tradisional.
  • Yang lain mengkhayal pula hadis Nur Muhammad adalah doktrin berasal dari ajaran trinitas dalam Kristian.
  • Yang lain pula mengkhayal berasal dari ajaran al-Hallaj, yang lain pula mengkhayal berasal dari Abi Yazid al-Bisthami, dll.
  • Di antara mereka ada menganggap bahawa hadis Nur Muhammad atau hadis yang sama maksud dengannya, adalah hadis maudhu`(hadis palsu). Penilaian mereka juga tidak sepakat atau tidak sependapat kerana selain yang berpendapat hadis maudhu`, dari golongan mereka pula ada yang berpendapat hadis dhaif, dan lain-lain. Sudah maklum bahawa pengertian atau takrif hadis maudhu` dengan hadis dhaif adalah tidak sama. Sesuatu penilaian yang bersifat teori maka bukanlah merupakan hujah atau hukum qath`ie, apatah lagi jika masih terdapat pertentangan atau kontroversi antara yang satu dengan yang lainnya.
  • Oleh itu sekian banyak kitab yang dikarang oleh sekian ramai ulama Ahlis Sunnah wal Jama`ah yang membicarakan hadis Nur Muhammad atau hadis yang sama maksud dengannya, perlu mendapat pembelaan.
Allahumma sholli wa sallim ‘ala Nuril Anwar.

Quthubul Habib ‘Ali bin Muhammad bin Husain al-Habsyi rhm. dalam mawlidnya “Simthud Durar”

Quthubul Habib ‘Ali bin Muhammad bin Husain al-Habsyi rhm. dalam mawlidnya “Simthud Durar” menulis antara lain:-
  • ……Telah sampai kepada kami dalam hadits-hadits yang masyhur, bahawa sesuatu yang mula pertama dicipta Allah ialah nur yang tersimpan dalam pribadi ini (yakni Junjungan Nabi s.a.w.). Maka nur insan tercinta inilah makhluk pertama muncul di alam semesta, daripadanya bercabang seluruh wujud ini, ciptaan demi ciptaan, yang baru datangnya ataupun yang sebelumnya (yang yang terlebih dahulu datangnya dari yang kemudian).
  • Sebagaimana diriwayatkan Abdur Razzaaq dengan sanadnya sampai kepada Jaabir bin ‘Abdullah al-Anshaari (semoga ridha Allah atas keduanya): “Bahawasanya ia pernah bertanya: “Demi ayah dan ibuku, ya Rasulullah, Beritahukanlah kepadaku tentang suatu yang dicipta Allah sebelum segalanya yang lain (yakni sebelum segala makhluk yang lain). Jawab baginda: “Wahai Jabir, sesungguhnya Allah telah menciptakan nur nabimu Muhammad s.a.w. dari nurNya sebelum sesuatu yang lain.”
Ikhwah, jika dikatakan bahawa Allah menciptakan nur Muhammad ini daripada nurNya, maka yang dimaksudkan di sini adalah nur yang menjadi milik Allah, bukannya sebahagian daripada zat Allah yang Maha Suci dan Maha Esa daripada berjuzuk-juzuk dan berpisah-pisah. Inilah yang dikatakan idhafah tasyrifiyyah iaitu suatu sandaran untuk memuliakan sesuatu. Sama seperti kita sandarkan bait (rumah) kepada Allah seperti BaitUllah (rumah Allah) atau ka’baatUllah (ka’bah Allah) dan sebagainya. Sebahagian golongan tersesat kerana beranggapan bahawa nur Muhammad ini asalnya adalah sebahagian dari zat Allah kerana beranggapan bahawa nur itu adalah sebahagian daripada zat Allah. Ini menjadikan pegangan mereka seumpama pegangan nasrani terhadap ketuhanan Nabi Isa a.s. Jelas ini bukanlah pegangan kita Ahlus Sunnah wal Jama`ah. Kita berpegang bahawa Nur Muhammad ini adalah makhluk yang diciptakan Allah dan tidak lebih daripada itu walau betapa hebat dan agungnya ciptaan ini.
Apa yang jelas, para ulama daripada kalangan habaib Bani ‘Alawi pada umumnya menerima dan berpegang dengan hadits tersebut sebagaimana termaktub dalam karya Habib ‘Ali bin Muhammad al-Habsyi yang termasyhur “Simthud Durar” yang menyatakan sebagai berikut:-
 “Sabilul Iddikar wal I’tibaar” karangan Imam al-Haddad
Posting kali ini aku hendak memperkenalkan ikhwah kepada karangan Imam al-Haddad yang masyhur dengan jodol “Sabilul Iddikar wal I’tibaar“. Satu karangan yang cukup bernilai. Karangan yang membicarakan dan memperjelaskan mengenai fasa-fasa kehidupan yang telah dan akan dilalui oleh seseorang insan bermula di alam arwah sejak dari penciptaan Nabi Adam a.s. sehinggalah ke kehidupan yang kekal abadi di Syurga atau di neraka (moga-moga Allah jadikan kita sekalian dan ibubapa kita dari kalangan ahli syurga dan bukannya ahli neraka, aaaamiiin). Kitab ini telah diterjemahkan dalam Bahasa Melayu oleh almarhum Habib Ahmad BinSemait rhm. dengan jodol “Peringatan Tentang Umur Insan” dalam edisi Rumi dan Jawi. Juga diterjemahkan dalam Bahasa Inggeris oleh Dr. Mostafa al-Badawi (murid Habib Ahmad Masyhur al-Haddad rhm.) dengan jodol “The Lives of Man“.
Di sini aku nak nukilkan sedikit tulisan Imam ini berhubung Nur Muhammad s.a.w., di mana dinyatakan pada halaman 16:-
Dan telah diriwayat bahawasanya Nabi Adam a.s. pernah mendengar Nur Junjungan Rasulullah s.a.w. bertasbih di tulang belakangnya (di sulbinya yakni pada ketika itu Nur Muhammad atau roh Junjungan Nabi s.a.w. berada dalam sulbi Nabi Adam a.s.) seperti bunyi kibasan burung. Maka tatkala Siti Hawa mengandungkan puteranya Nabi Syits alaihimas salam, nur itu berpindah kepada Siti Hawa, kemudian kepada Nabi Syits a.s. pula. Kemudian berterusan nur tersebut berpindah-pindah kepada sulbi-sulbi yang suci dan rahim-rahim yang cemerlang, sehingga lahir Junjungan Rasulullah s.a.w. daripada (pernikahan) kedua ibubapa baginda yang mulia. Tidaklah pernah terkena Junjungan Rasulullah s.a.w. akan sesuatu kekotoran jahiliyyah dan kekejiannya, walaupun ketika itu berlaku pada kalangan mereka (yakni kalangan umat-umat terdahulu) pernikahan-pernikahan yang dianggap batil, maka Allah telah mensucikan baginda daripadanya, sebagaimana disabdakan baginda ‘alaihis sholatu was salam: “Aku dilahirkan daripada nikah dan bukan daripada perzinaan.”
Sayyidina Ibnu ‘Abbas r.’anhuma dalam mentafsirkan firman Allah ta`ala:

الَّذِي يَرَاكَ حِينَ تَقُومُ وَتَقَلُّبَكَ فِي السَّاجِدِينَ
menyatakan bahawa maksud ayat tersebut ialah berpindah-pindahnya (nur/ruh) Junjungan Nabi ‘alaihis sholatu was salam daripada sulbi seorang nabi kepada nabi yang lain seperti Nabi Ismail, Nabi Ibrahim, Nabi Nuh, Nabi Syits dan Nabi Adam ‘alaihimus salam. Dalam hal ini (yakni dalam hal berpindah-pindahnya nur/roh Junjungan Nabi s.a.w. daripada sulbi seorang nabi kepada sulbi nabi yang lain) tidaklah ada khilaf padanya.
َ
kitab Jawi yang popular sebagai rujukan ialah kitab “Kashf al-Ghaibiyyah”
Dalam kitab “Kashf al-Ghaibiyyah” (berdasarkan karangan asalnya “Daqa’iq al-Akhbar fi Dhikr al-Jannah wa al-Nar” karangan Imam ‘Abd al-Rahim bin Ahmad al-Qadhi, dan kitab “Durar al-Hisan” karangan al-Suyuti, dan “Mashariq al-Anwar” oleh Shaikh Hasan al-‘Adawi antara lainnya), oleh Syaikh Zain al-‘Abidin al-Fatani rh (Maktabah wa Matba’ah dar al-Ma’arif, Pulau Pinang, t.t.) Kitab ini dikarang oleh beliau pada tahun 1301 Hijrah. Pada halaman 3 dst. terdapat bab awal berkenaan dengan penciptaan roh teragung, (al-Ruh al-A’zam), iaitu nur Nabi kita Muhammad ‘alaihis-salatu was-salam. Kata beliau:
“Sesungguhnya telah datang pada khabar oleh bahawasanya Allah taala telah menjadi ia akan satu pohon kayu baginya empat dahan, maka menamai akan dia Syajarat al-Muttaqin (Pokok Orang-orang yang bertaqwa), dan pada setengah riwayat Shajarah al-yaqin (Pokok Keyakinan), kemudian telah menjadi ia akan Nur Muhammad di dalam hijab daripada permata yang sangat putih seu(m)pama rupa burung merak dan dihantarkan ia akan dia atas demikian pohon kayu itu , maka mengucap tasbihlah oleh Nur itu atas pohon kayu itu kadar tujuh puluh ribu tahun, kemudian menjadi akan cermin kemaluan maka dihantarkan akan dia dengan berhadapannya; maka tatkala menilik oleh merak itu di dalam cermin itu melihat ia akan rupanya terlebih elok dan terlebih perhiasan kelakuan, maka malu ia daripada Allah taala, maka lalu berpeluh ia maka titik daripadanya enam titik, maka menjadi oleh Allah taala daripada titik yang pertama akan ruh Abu Bakar radiya’Llahu ‘anhu, dan daripada titik yang kedua itu akan ruh ‘Umar radiya’llahu ‘anhu dan daripada titik yang ketiga itu akan ruh ‘Uthman radiya’Llahu ‘anhu, dan daripada titik yang keempat itu akan ruh ‘Ali radiya’Llahu ‘anhu, dan daripada titik yang kelima itu akan pohon bunga mawar dan daripada titik yang keenam itu akan padi” (hal. 3).
Kemudian disebut bagaimana Nur Muhammad itu sujud lima kali, dengan itu, menjadi fardu sujud, lalu difardukan sembahyang yang lima waktu atas Muhammad dan ummatnya. Kemudian disebut Allah menilik kepada nur itu, lalu ia malu, berpeluh kerana malunya. Daripada peluh hidungnya Allah jadikan malaikat, daripada peluh mukanya Allah jadikan ‘Arasy, Kursi, Lauh dan Qalam, matahari, bulan, hijab, segala bintang, dan barang-barang yang ada di langit. Daripada peluh dadanya dijadikan anbia, mursalin, ulama, syuhada dan solihin. Daripada peluh belakangnya dijadikan Bait al-ma’mur, Ka’bah, Bait al-Maqdis, dan segala tempat masjid dalam dunia. (hal. 3-4).
Disebutkan beberapa kejadian lagi daripada peluhnya itu:
Daripada peluh dua kening: mukminin dan mukminat dari umat Muhammad;
Daripada peluh dua telinganya: arwah Yahudi dan Nasrani, dan Majusi, golongan mulhid, kafir yang engkar kebenaran, munafikin.
Daripada peluh dua kaki: segala bumi dari Timur dan Barat dan yang ada di dalamnya (hal. 4)
Kemudian Allah memerintah nur itu supaya memandang ke hadapan, di hadapannya ada nur, di kanan dan kirinya juga nur. Mereka itu ialah Abu Bakar, ‘Umar, ‘Uthman, dan ‘Ali. Kemudian Nur itu mengucap tasbih selama tujuh puluh ribu tahun.
Kata pengarang: dijadikan nur para anbia daripada Nur Muhammad s.a.w.; ertinya dijadikan arwah para anbia daripada peluh ruh Muhammad s.a.w., dan dijadikan segala ruh umat anbia itu daripada peluh arwah anbia mereka itu.
Kemudian diriwayatkan bahawa dijadikan oleh Allah kandil daripada akik yang merah, dilihat orang akan zahirnya itu daripada bahagian dalamnya, kemudian dijadikan rupa Muhammad seperti Baginda di dunia ini, kemudian diletakkan di dalam kandil tersebut, berdiri Baginda di dalamnya seperti berdirinya di dalam sembahyang; kemudian berkeliling roh segala anbia dan lainnya di sekeliling kandil nur Muhammad ‘alaihis-salam, mengucap tasbih dan mengucap tahlil mereka itu selama seratus ribu tahun; kemudian Allah menyuruh segala ruh itu menilik kepadanya; yang menilik kepada kepalanya menjadi khalifah dan sultan antara sekelian makhluk; yang menilik kepada dahinya menjadi amir yang adil; yang menilik kepada dua matanya menjadi hafiz kalam Allah; yang melihat dua keningnya menjadi tukang lukis; yang melihat kepada dua telinganya jadilah ia menuntut dengar dan menerima (pengajaran); yang melihat dua pipinya jadilah ia berbuat baik dan berakal; yang melihat dua bibir mulutnya menjadi orang-orang besar raja. Yang melihat hidung menjadi hakim dan tabib dan penjual bau-bauan. Yang melihat mulut menjadi orang puasa. Demikian seterusnya dengan melihat anggota tertentu, jadilah orang itu mempunyai sifat-sifat tertentu di dunia nanti. Misalnya yang melihat dadanya menjadi orang alim, mulia dan mujtahid. (hal. 5). Dan orang yang tidak menilik sesuatu kepadanya jadilah ia mengaku menjadi Tuhan seperti Fir’aun dan yang sepertinya. (hal. 5).
Beliau menyebut hadith qudsi ( كنت كنزا مخفيا فأحببت أن أعرف فخلقت الخلق لاعرف )
Adalah Aku perbendaharaan yang tersembunyi maka Aku kehendak akan diperkenal akan daku maka Aku jadikan segala makhluk supaya dikenalnya akan daku. (hal. 6)
Kemudian beliau menyebut hadith Nabi s.a.w. أول ما خلق الله تعالى نورى وفى رواية روحى
Ertinya yang awal-awal barang yang suatu dijadikan Allah taala itu nurku dan pada suatu riwayat ruhku. Kata pengarang ini: Maka adalah sekelian alam ini dijadikan Allah subhanahu taala daripada sebab nur Muhammad s.a.w. seperti yang teleh tersebut. Lalu ia menyebut pula haditrh qudsi: خلقت الاشياء لاجلك وخلقتك لاجلى
Ertinya: Aku jadikan segala perkara itu kerana engkau ya Muhammad dan Aku jadikan akan dikau itu kerana Aku, yakni dijadikan nur Muhammad itu dengan tiada wasitah suatu jua pun. (hal. 6)
Melalui kitab terkenal ini tersebar fahaman tentang konsep Nur Muhammad di kalangan Muslimin sebelah sini.
Bab yang berikutnya ialah tentang penciptaan Adam a.s. (hal 6 dst).
Kitab al-Kaukab al-Durri fi al-Nur al-Muhammadi oleh Syaikh Muhammad bin Isma’il Daud al-Fatani rh
Kitab ini (terbitan Khazanah al-Fattaniyyah, Kuala Lumpur, 2001). Kitab ini yang dikarang oleh penulisnya pada tahun 1304 Hijrah, di Makkah, berbicara tentang tajuk yang berkenaan dari halaman 2-7. Isinya berdasarkan riwayat Ka’ab al-Akhbar, sebagaimana yang ada dalam kitab “Kashf al-Ghaibiyyah” karangan Syaikh Zain al-‘Abidin al-Fatani. Antaranya maklumatnya ialah: Tuhan menggenggam satu genggam daripada NurNya, diperintah ia menjadi Muhammad, ia menjadi Muhammad, ia menjadi tiang, ia sujud kepada Allah, dibahagi nur itu kepada empat bahagi, pertama menjadi Lauh, kedua Qalam, perintah menulis kepada Qalam, sampai kepada umat nabi-nabi, yang taat dan yang derhaka, dengan akibat-akibat mereka. Sampai disebutkan riwayat tentang sesiapa yang melihat nur itu pada bahagian-bahagian tertentu jadilah ia mempunyai sifat-sifat tertentu. Sekelian makhluk dijadikan daripada nurnya. Ia berakhir dengan menyebut makhluk sembahyang dengan huruf nama Ahmad dan Muhammad, berdiri qiyam seumpama alif, ruku’ seumpama ha’, sujud seumpama mim, duduk seperti rupa dal. Juga dikatakan makhluk dijadikan atas rupa huruf nama Muhammad, kepala bulat seperti mim, dua tangan seperti rupa ha’, perut seperti rupa mim, dua kaki seperti rupa dal.
Kitab “Daqa’iq al-Akhbar fi Dhikr al-jannah wa al-Nar” terjemahan Melayu oleh Syaikh Ahmad ibn Muhammad Yunus Langka:
Kitab ini diterjemahkan oleh beliau pada 1312 Hijrah di Makkah dahulunya diterbitkan oleh dar Ihya’ al-Kutub al-‘Arabiyyah, Mesir. Kemudian ia diterbitkan oleh Maktabah wa matba’ah al-ma’arif, Pulau Pinang, tanpa tarikh. Isi kitab ini berkenaan dengan nur Muhammad s.a.w., asal kejadiannya, bagaimana semua makhluk dijadikan daripadanya adalah sebagaimana yang telah disebutkan oleh Syaikh Zain al-‘Abidin dalam “Kasshf al-Ghaibiyah”nya yang menjadikan kitab ini sebagai satu daripada sumber-sumbernya, sebagaimana yang dinyatakan dalam bahagian permulaan kitabnya. Bab pertamanya sama isinya dengan apa yang ada dalam kitab terjemahan ini.
Kitab Madarij al-Su’ud oleh Nawawi al-Bantani rh
Kitab “Madarij al-Su’ud ila ‘ktisa’ al-Burud”, dalam Bahasa Arab, syarah bagi kitab “Maulid al-Barzanji”. Dalam mensyarahkan kata-kata dalam “al-Barzanji” hal. 2-3 (Surabaya, tanpa tarikh dan Singapura, tanpa tarikh) bermaksud “Segala puji-pujian bagi Allah yang membuka (seluruh) wujud ini dengan Nur Muhammad (‘al-Nur al-Muhammadi”) yang mengalir dalam tiap-tiap perkara (perkara yang ditakdirkannya oleh Allah taala sebelum daripada Ia menjadikan langit-langit dan bumi selama lima puluh ribu tahun.
Kemudian kata Syaikh Nawawi rh lagi menukil Ka’ab al-Akhbar Allah meredhainya: “Bila Allah hendak menjadikan sekelian makhluk dan mengamparkan bumi dan menegakkan langit, Ia mengambil segempal daripada nurNya firmanNya Jadilah kamu Muhammad, maka jadilah ia sebagai tiang daripada nur dan gemilang bercahaya sehingga sampai kepada hijab zulmah kemudian ia sujud, sambil katanya: Al-hamdulillah, kemudian Allah berfirman kerana itu Aku jadikan engkau dan menamakan engkau Muhammad, daripada engkau Aku memulakan penciptaan dan (dengan engkau) Aku mengkhatamkan sekelian rasul; kemudian Allah taala membahagikan nurnya itu kepada empat bahagian, dijadikan daripada yang pertamanya Lauh daripada yang keduanya al-qalam, kemudian Allah berfirman kepada Qalam tulislah, kemudian qalam … selama seribu tahun kepara kehebatan Kalam Allah taala kemudian ia berkata; Apa yang hamba hendak tuliskan, Tuhan berfirman ‘Tulislah ‘la ilaha illa’Allah Muhammadun Rasulullah’ maka Qalam pun menulis yang demikian itu, kemudian ia menjadi terbimbing kepada Ilmu Allah dalam makhlukNya, kemudian ia menulis anak-anak Adam sesiapa yang taatkan Allah dimasukkanNya ke dalam Syurga dan sesiapa yang derhaka kepadaNya dimasukkanNya ke dalam Neraka;
Kemudian (ia menulis) tentang umat Nuh, sesiapa yang taatkan Allah dimasukkanNya ke dalam Syurga dan sesiapa yang derhaka kepadaNya dimasukkanNya ke dalam Neraka…
Demikian seterusnya dengan menyebut umat nabi Ibrahim, … umat nabi Musa …, umat Nabi ‘Isa …, sampai kepada umat nabi Muhammad s.a.w., … kemudian bila Qalam hendak menulis sesiapa yang derhaka dari umat Muhammad akan dimasukkan ke dalam Neraka, terdengar suara dari Tuhan yang Maha Tinggi ‘wahai Qalam, beradablah, maka pecahlah Qalam kerana rasa haibah itu, …, kemudian ini diikuti dengan sebutan tentang bahagian ketiga dijadikan ‘Arasy, dan bahagian yang keempat dibahagi empat pula daripada yang awalnya dijadikan akal, daripada yang kedua dijadikan ma’rifah, daripada yang ketiga dijadikan cahaya ‘Arasy, dan cahaya mata, serta cahaya siang, maka tiap-tiap cahaya ini adalah daripada Nur Muhammad.
Kemudian dinyatakan yang bahagian yang keempat itu diletakkan di bawah ‘Arasy sehinggalah Allah menjadikan Adam a.s., maka Allah letakkan nur itu pada belakangnya, dan dijadikan para malaikat sujud kepadanya, dimasukkannya ke dalam Syurga, walhal para malaikat bersaf di belakang Adam, melihat kepada nur Muhammad. Bila Adam alaihis-salam bertanya mengapa malaikat berdiri di belakangnya bersaf Allah menjawab mereka itu sedang melihat kepada nur kekasihNya Muhammad yang menjadi khatam sekelian rasul dan anbia. Kemudian Adam meminta nur itu dipindahkan ke hadapan, lalu diletakkan pada dahi Baginda. Maka malaikat mengadap wajahnya pula. Adam meminta pula dipindahkannya lalu diletakkan pada jari telunjuknya supaya ia boleh melihatnya; maka bertambah-tambahlah cantiknya nur itu. Kemudian disebut nur itu dipindah kepada Hawwa’, kemudian kepada nabi Shith, dan seterusnya. Demikianlah nur itu berpindah daripada satu rahim yang suci kepada rahim suci yang lain, sampai ia kepada sulbi ‘Abdullah bapanya, kemudian keluarlah ia ke dunia melalui rahim ibunya. (hal. 3).
Perbincangan tentang punca-punca konsep Nur Muhammad:
Antara punca-punca konsep Nur Muhammad ini ialah sebutan-sebutan tentangnya dalam Qur’an dan Sunnah.
Dalam al-Qur’an terdapat sebutan tentang “nur” dalam ayat yang bermaksud “Sesungguhnya telah datang kepadamu Nur dari Allah dan Kitab yang nyata” (Al Quran 5:15).
Tentang ayat di atas “Tafsir al-Jalalain” oleh al-Suyuti menyatakan makna nur itu ialah “rasulullah s.a.w.”.
“قَدْ جَاءَكُمْ مِنْ اللَّه نُور” هُوَ النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ “وَكِتَاب” قُرْآن “مُبِين” بَيِّن ظَاهِر
Dalam “Tafsir al-Qurtubi” dinyatakan begini:
” قَدْ جَاءَكُمْ مِنْ اللَّه نُور ” أَيْ ضِيَاء ; قِيلَ : الْإِسْلَام , وَقِيلَ : مُحَمَّد عَلَيْهِ السَّلَام ; عَنْ الزَّجَّاج .
Telah datang kepada kamu Nur dari Allah, iaitu cahaya, dikatakan “Islam”, dan dikatakan: Muhammad s.a.w. dari al-Zajjaj. Dan “kitab” itu dikatakan Qur’an.
Dalam “Tafsir al-Tabari” “nur”: telah datang kepada kamu wahai ahli Taurat dan Injil Nur dari Allah, yakni Nur itu Muhammad salla’Llahu ‘alaihi wa sallam yang dengannya dicerahkan kebenaran dizahirkan Islam dan dihapuskan kesyirikan.
قَدْ جَاءَكُمْ يَا أَهْل التَّوْرَاة وَالْإِنْجِيل مِنْ اللَّه نُور , يَعْنِي بِالنُّورِ مُحَمَّد صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , الَّذِي أَنَارَ اللَّه بِهِ الْحَقّ , وَأَظْهَرَ بِهِ الْإِسْلَام , وَمَحَقَ بِهِ الشِّرْك
Dalam “Tafsir ibn Kathir” tentang ayat ini (Al Quran 5:15) dinyatakan
قَدْ جَاءَكُمْ مِنْ اللَّهِ نُورٌ وَكِتَابٌ مُبِينٌ ” يَقُول تَعَالَى مُخْبِرًا عَنْ نَفْسِهِ الْكَرِيمَةِ أَنَّهُ قَدْ أَرْسَلَ رَسُوله مُحَمَّدًا بِالْهُدَى وَدِين الْحَقّ إِلَى جَمِيع أَهْل الْأَرْض
Telah datang kepada kamu Nur dari Allah dan kitab yang nyata, Allah taala memberi khabar berekenaan dengan diriNya sendiri bahawa Ia mengutuskan RasulNya Muhammad dengan Bimbingan Hidayat dan Agama yang hak kepada semua ahli bumi.
Berkenaan dengan ayat 119 Surah al-Syu’ara’
وَتَقَلُّبَكَ فِي السَّاجِدِينَ
Dan perubahan gerak engkau di kalangan mereka yang sujud
قَالَ مُجَاهِد وَقَتَادَة : فِي الْمُصَلِّينَ . وَقَالَ اِبْن عَبَّاس : أَيْ فِي أَصْلَاب الْآبَاء , آدَم وَنُوح وَإِبْرَاهِيم حَتَّى أَخْرَجَهُ نَبِيًّا . وَقَالَ عِكْرِمَة : يَرَاك قَائِمًا وَرَاكِعًا وَسَاجِدًا ; وَقَالَهُ اِبْن عَبَّاس أَيْضًا
Kata Mujahid dan Qatadah: (perubahan gerak engkau di kalangan mereka yang sujud) iaitu di kalangan mereka yang sembahyang. Kata Ibn ‘Abbas: dalam sulbi-sulbi bapa-bapa kamu (turun temurun) Adam, Nuh, dan Ibrahim, sehingga Allah keluarkan Baginda sebagai nabi (akhir zaman). Kata ‘Ikrimah: Melihat engkau berdiri, ruku’, sujud; Ibn ‘Abbas juga berpendapat demikian.
Dalam “Tafsir Ibn Kathir” dalam hubungan dengan ayat yang sama terdapat kenyataan:
وَتَقَلُّبَكَ فِي السَّاجِدِينَ
وَقَوْله تَعَالَى ” وَتَقَلُّبك فِي السَّاجِدِينَ ” قَالَ قَتَادَة ” الَّذِي يَرَاك حِين تَقُوم وَتَقَلُّبك فِي السَّاجِدِينَ ” قَالَ فِي الصَّلَاة يَرَاك وَحْدك وَيَرَاك فِي الْجَمْع وَهَذَا قَوْل عِكْرِمَة وَعَطَاء الْخُرَاسَانِيّ وَالْحَسَن الْبَصْرِيّ وَقَالَ مُجَاهِد كَانَ رَسُول اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَرَى مِنْ خَلْفه كَمَا يَرَى مِنْ أَمَامه وَيَشْهَد لِهَذَا مَا صَحَّ فِي الْحَدِيث ” سَوُّوا صُفُوفكُمْ فَإِنِّي أَرَاكُمْ مِنْ وَرَاء ظَهْرِي ” وَرَوَى الْبَزَّار وَابْن أَبِي حَاتِم مِنْ طَرِيقَيْنِ عَنْ اِبْن عَبَّاس أَنَّهُ قَالَ فِي هَذِهِ الْآيَة يَعْنِي تَقَلُّبه مِنْ صُلْب نَبِيّ إِلَى صُلْب نَبِيّ حَتَّى أَخْرَجَهُ نَبِيًّا .
Firman Allah taala: Dan perubahan gerak engkau di kalangan mereka yang sujud. Kata Qatadah: Dia yang melihat engkau bila engkau berdiri dan perubahan gerak engkau di kalangan mereka yang sujud” dalam sembahyang Ia melihat engkau keseorangan dan dalam jemaah. Ini pendapat ‘Ikrimah dan ‘Ata’ al-Khurasani serta Hasan al-Basri. Kata Mujahid Rasulullah s.a.w. boleh melihat orang di belakang Baginda sebagaimana ia boleh melihat orang yang di hadapannya. Dan ia menyaksikan bagi yang demikian sebagaimana yang sahih dalam hadith.’Samakan saf-saf kamu, sesungguhnya aku melihat di belakangku’. Dan diriwayatkan oleh al-Bazzar danb ibn Abi Hatim dari dua jalan dari ibn “Abbas bahawa ia menyatakan tentang ayat ini iaitu ‘perubahan gerak Baginda dalam sulbi nabi sampai ke sulbi nabi (yang lain, dari Adam sampai seterusnya) sehingga Tuhan keluarkan Baginda (ke-dunia menjadi penamat sekelian) nabi.
Dalam Tafsir Ruh al-ma’ani karangan al-Alusi rh tentang huraian berkenaan dengan ayat 5:15, kenyataannya ialah seperti berikut:
(Berkenaan dengan ayat yang bermaksud: “Telah datang kepada dari Allah nur dan kitab yang nyata”)-nur yang agung (‘azim), ia cahaya bagi sekelian cahaya (nur al-anwar), nabi yang terpilih salla’Llahu ‘alaihi wa sallam, dan Qtadah berpegang kepada pendapat ini, juga (ahli bahasa yang terkenal) al-Zajjaj…Dan tidak jauh (daripada kebenaran) pada pendapatku bahawa maksud kitab yang nyata itu (juga) ialah nabi salla’llahu ‘alaihi wa sallam, dan ‘ataf atasnya adalah seperti ‘ataf yang dikatakan oleh al-Jubba’I (iaitu pada al-Jubbai Mu’tazilah itu nur dan kitab itu kedua-duanya maksudnya Qur’an)(maka pada al-Alusi, kedua-duanya itu adalah merujuk kepada nabi Muhammad s.a.w.), dan tidak ada syak bahawa sebutan itu tiap-tiap satunya adalah kepada nabi ‘alaihis-salatu was-salam (iaitu Nabi Muhammad), dan kalau anda teragak-agak untuk menerimanya dari segi ibaratnya, maka biarlah anda menerimanya dari segi isyaratnya (pula)…(jilid III,hal.369).
Dalam hubungan dengan ayat yang bermaksud: Tidaklah Kami mengutus engkau wahai Muhammad) melainkan sebagai rahmat untuk sekelian alam, al-Alusi dalam Tafsir Ruh al-Ma’ani (jilid IX.hal.99-100) menyatakan seperti berikut:
Hakikat keadaan nabi salla’Llahu ‘alaihi wa sallam sebagai rahmat untuk semuanya adalah dengan mengambil kira Baginda sebagai perantara (wasitah) untuk limpahan rahmat Ilahi (wasitah al-faid al-Ilahi) atas sekelian makhluk yang ada (al-mumkinat) daripada permulaan lagi; kerana itulah maka nurnya adalah perkara yang mula-mula sekali dijadikan Allah; dalam hadith ada kenyataan ‘Perkara awal yang dijadikan Allah taala ialah nur nabi engkau, wahai Jabir,’ dan ada hadith “Allah taala Maha pemberi dan aku Pembahagi’. (Allah taala al-Mu’ti wa ana al-Qasim).
Dalam “Tafsir Ruh al-Ma’ani” karangan Al-Alusi rh (men.1170 H.), tentang ayat yang bermaksud “telah datang kepada kamu dari Allah nur dan kitab yang nyata” (15.15), jilid III.369) terdapat penerangan bahawa “nur itu nur (yang agung), nur dari segala nur, dan nabi yang terpilih-salla’llahu ‘alaihi wa sallam- ini pandangan yang dipegang oleh Qatadah, dan al-Zajjaj (ahli bahasa yang terkenal itu) memilih pendapat ini…Dan pada sisiku tidak jauh (dari kebenaran) bahawa yang dimaksudkan nur dan kitab yang nyata itu adalah (kedua-duanya merujuk kepada ) nabi salla’llahu ‘alaihi wa sallam, dan penyambung yang digunakan itu adalah seperti penyambung yang dikatakan oleh al-Jubba’I (ulama Mu’tazilah yang terkenal itu) (pada al-Jubba’I kedua-dua nur dan kitab itu merujuk kepada Qur’an , adapun pada al-Alusi kedua-duanya merujuk kepada Nabi Muhammad s.a.w.), dan mungkin anda merasa teragak-agak untuk menerima pendapat ini dari segi ibaratnya, maka biarkanlah itu jadinya dari segi isyarat (iaitu kalau anda tidak boleh menerima pendapat saya ini dari segi ibaratnya biarlah itu boleh diterima dari segi isayaratnya)…” (ibid. III. 369).
Dalam kitab yang sama, (Ruh al-Ma’ani, juz IX.100) berhubung dengan ayat yang bermaksud “Tidaklah kami mengutus engkau (wahai Muhammad) melainkan sebagai rahmat untuk sekelian alam”, beliau memberi huraian dengan katanya: “Hakikat keadaan Nabi salla’Llahu ‘alaihi wa sallam sebagai rahmat untuk semua yangt wujud (“lil-jami’”) itu ialah dengan iktibar bahawa Baginda adalah penengah –wasitah- bagi limpahan rahm at Ilahi (“wasitah al-faid al-ilahi”) atas sekelian makhluk (“al-mumkinat”) dari awalnya, dan itu ialah kerana nur Baginda salla’Llahu ‘alaihi wa sallam adalah makhluk yang paling awal; maka dalam hadith dinyatakan “perkara awal yang dijadikan Allah taala ialah nur nabi engkau wahai Jabir…” dan datang hadith yang menyebut “Allah ta’ala adalah Maha pemberi dan aku adalah Pembahagi”.Di kalangan ulama sufiah – Allah menyucikan asrar mereka – ada terdapat huraian berkenaan dengan hal yang demikian itu yang leb ih lagi daripada ini.”
Kemudian al-Alusi rh menukil pendapat ibn al-Qayyim al-Jauziyyah dalam kitabnya “Miftah al-sa’adah”. Katanya “Kalaulah tidak kerana nubuwwat tidak akan ada langsung dalam alam ini ilmu yang bermenafaat, amal salih, dan kebaikan dalam hidup manusia, dan tidak ada asas bagi kerajaan, dan manusia akan berkedudukan seperti haiwan dan binatang buas serta anjing yang memudaratkan, yang setengahnya berseteru dengan yang lainnya.
Maka setiap perkara kebaikan pada alam ini adalah daripada kesan nubuwwah, dan tiap-tiap keburukan yang berlaku dalam alam atau yang akan berlaku adalah dengan sebab terselindungnya kesan nubuwwah dan pengarjian tentangnya. Maka alam ini adalah seumpamna jasad dan rohnya ialah nubuwwah, maka tanpa rohnya jasad itu tidak akan ada dokongannya; kerana itu (bila tidak ada langsung kesan nubuwwah dan pengajiannya) buminya akan bergoncang, makhluk yang berada di atasnya akan binasa, maka tidak ada dokongan untuk hidup alam melainkan dengan kesan-kesan nubuwwah (iaitu pengajaran daripadanya). (“Ruh al-Ma’ani”. juz 9, hal. 100).
Dalam kitab yang sama, tentang ayat yang bermaksud “gerak-gerimu di kalangan mereka yang sujud” (al-Shu’ara 217-219), selain daripada maksud bahawa nabi beregerak di kalangan mereka yang sembahyang, dengan da’wahnya dan lainnya, pengarang “Ruh al-Ma’ani” (jilid X.hal.135) menerangkan bahawa: “dan daripada ibn Jubair bahawa maksud mereka itu ialah para anbia ‘a.s.s., dan makna “melihat gerak-geri engkau sebagaimana gerak-geri mereka yang selain daripada engkau dari kalangan para anbia ‘a.s. dalam mereka menyampaikan apa yang diperintahkan kepada mereka, sebagaimana yang kamu lihat”, dan tafsir tentang “mereka yang sujud” itu para anbia, diriwayatkan oleh satu jemaah, antara mereka ialah Tabarani, al-Bazzar, dan Abu Nu’aim , dari ibn ‘Abbas juga , melainkan bahawa beliau itu –Allah meredhainya- menafsirkan “gerak-geri engkau di kalangan mereka” itu sebagai bermakna berpindah-pindahnya Baginda (sebagai Nur Muhammad-UEM) dalam sulbi-sulbi mereka sehingga bondanya melahirkannya –alaihis-salatu wassalam- …’(ibid.X.135)
Dalam Tafsir al-Wajiz fi Tafsir al-Qur’an al-‘Aziz karangan al-Imam Abul-Hasan ‘Ali bin Ahmad al-Wahidi (men.468 H.) berkenaan dengan ayat yang bermaksud Telah datang kepada kamu dari Allah cahaya dan Kitab yang nyata, katanya nur ya’ni Nabi salla’Llahu ‘alaihi wa sallam dan Kitab yang nyata ya’ni Qur’an …(Jilid II hal.196.
Demikian juga dalam Al-Tafsir al-Munir li-Ma’alim al-Tanzil al-Musamma Mirah Labid li-Kashfi Ma’na Qur’an Majid oleh Shaikh Nawawi al-Bantani (dan beliau ulama Nusan tara, dari Bentan yang terkenal dalam abad ke-19) – di tepinya Tafsir al-Wajiz karangan al-Wahidi- jilid II hal. 196 ada dinyatakan:
Ayat yang bermaksud Telah datang (…dari Allah kepada kamu nur) yaitu Rasul iaitu Muhammad salla’Llahu ‘alaihi wa sallam (dan Kitab yang nyata) iaitu Qur’an…
Dan dalam Tafsir yang sama, berhubungan dengan ayat yang bermaksud: dan pergerakan kamu di kalangan mereka yang sujud, yaitu Ia melihat gerak-geri kamu dalam sembahyang dengan kiyam dan ruku’ dan sujud serta duduk bersama-sama mereka yang semb ahyang bila engkau menjadi imam dalam berjemaah dengan mereka, dan dikatakan dan Ia melihat engkau berpindah –pindah dalam sulbi para mu’minin dan mu’minat, semenjak dari Adam dan Hawa sampai kepada ‘Abdullah dan Aminah; maka semua nenek moyang dan ibu bapa penghulu kita Muhammad salla’Llahu ‘alaihi wa sallam lelaki dan perempuan, tidak termasuk syirik ke dalamdiri mereka kesyirikan selama mana Nur Muhammad (al-Nur al-Muhammadi) dalam lelaki dan perempuan itu, maka bila berpindah (nur itu) daripadanya kepada orang yang kemudiannya, maka m ungkin orang itu menyembah yang selain daripada Allah, dan Azar (bapa nabi Ibrahim) tidak menyembah berhala melainkan selepas berpindah Nur itu kepada Ibrahim, adapun sebelum berpindahnya (kepada Ibrahim) ia tidak menyembah selain dari Allah…(ibid.II.119).
Hadith berkenaan dengan Nur:
Tentang hadith berkenaan dengan Nur itu antara yang boleh dikemukakan ialah:
Dalam Kitab “Kashf al-Khafa’ wa Muzil al-Ilbas ‘Amman Ishtahara min al-Ahadith ‘Ala Alsinatin-Nas’ oleh al-‘Ajluni (men.1162 Hijrah):
(827 – أول ما خلق اللهُ نورُ نبِيكِ يا جابر – الحديث
رواه عبد الرزاق بسنده عن جابر بن عبد الله بلفظ قال قلت‏:‏ يا رسول الله، بأبي أنت وأمي، أخبرني عن أول شيء خلقه الله قبل الأشياء‏.‏ قال‏:‏ يا جابر، إن الله تعالى خلق قبل الأشياء نور نبيك من نوره، فجعل ذلك النور يدور بالقُدرة حيث شاء الله، ولم يكن في ذلك الوقت لوح ولا قلم ولا جنة ولا نار ولا ملك ولا سماء ولا أرض ولا شمس ولا قمر ولا جِنِّيٌ ولا إنسي، فلما أراد الله أن يخلق الخلق قسم ذلك النور أربعة أجزاء‏:‏ فخلق من الجزء الأول القلم، ومن الثاني اللوح، ومن الثالث العرش، ثم قسم الجزء الرابع أربعة أجزاء، فخلق من الجزء الأول حَمَلَة العرش، ومن الثاني الكرسي، ومن الثالث باقي الملائكة، ثم قسم الجزء الرابع أربعة أجزاء‏:‏ فخلق من الأول السماوات، ومن الثاني الأرضين، ومن الثالث الجنة والنار، ثم قسم الرابع أربعة أجزاء، فخلق من الأول نور أبصار المؤمنين، ومن الثاني نور قلوبهم وهى المعرفة بالله، ومن الثالث نور إنسهم وهو التوحيد لا إله إلا الله محمد رسول الله‏.‏ الحديث‏.‏ كذا في المواهب‏.‏(
Hadith yang bermaksud: “Yang pertama dijadikan Allah ialah nur Nabi engkau, wahai Jabir”. Diriwayatkan oleh ‘Abd al-Razzaq dengan sanadnya daripada Jabir bin ‘Abd Allah dengan lafaz: Katanya: Aku berkata: Wahai Rasulullah, bapa dan bonda hamba menjadi tebusan tuan, beritahu kepada hamba tentang perkara terawal yang dijadikan Allah sebelum segala sesuatu. Jawab Baginda: Wahai Jabir, sesungguhnya Allah jadikan sebelum segala sesuatu nur Nabi engkau daripada NurNya, kemudian Ia jadikan nur itu berkisar dengan kudrat cara yang dikehendakiNya, walhal dalam masa itu tiada Lauh (Lauh Mahfuz), tiada Qalam, Syurga dan Neraka, tiada malaikat, langit, bumi, matahari, bulan, jin dan manusia. Maka bila Allah kehendaki menjadikan sekelian makhluk ia membahagikan Nur itu kepada empat bahagian, daripada juzu’ pertama ia jadikan al-Qalam, daripada yang kedua Ia jadikan Lauh (Lauh Mahfuz), daripada yang ketiga Ia jadikan ‘Arash, kemudian Ia membahagikan pula juzu’ yang keempat itu kepada empat bahagi, maka daripada juzu’ yang pertama Ia jadikan malaikat penanggung ‘Arasy, daripada juzu’ yang kedua Ia jadikan Kursi, daripada yang ketiga Ia jadikan malaikat yang baki lagi. Kemudian Ia membahagikan lagi juzu’ yang keempat itu kepada empat bahagi yang pertamanya dijadikan langit-langit, yang keduanya bumi-bumi, yang ketiganya Syurga dan Neraka. Kemudian yang keempatnya dibahagikan kepada empat bahagian: yang pertamanya dijadikanNya nur pandangan mata Muslimin, daripada yang kedua cahaya hati mereka, ia ma’rifat terhadap Allah, daripada yang ketiga dijadikanNya nur kejinakan mereka (dengan Tuhan) iaitu ‘tiada Tuhan melainkan Allah, Muhammad Rasulullah’, demikian hadith dalam “al-Mawahib” (iaitu al-Mawahib al-Laduniyyah karangan ahli hadith al-Qastallani yang terkenal sebagai rujukan itu).
Dan seterusnya:
وقال فيها أيضا‏:‏ واختُلِف هل القلم أول المخلوقات بعد النور المحمدي أم لا‏؟‏ فقال الحافظ أبو يعلى الهمداني‏:‏ الأصح أن العرش قبل القلم، لِما ثبت في الصحيح عن ابن عمر قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم‏:‏ قدر الله مقادير الخلق قبل أن يخلق السماوات والأرض بخمسين ألف سنة، وكان عرشه على الماء، فهذا صريح في أن التقدير وقع بعد خلق العرش، والتقدير وقع عند أول خلق القلم، فحديث عبادة بن الصامت مرفوعا ‏”‏أول ما خلق الله القلم، فقال له أكتب، فقال رب وما أكتب‏؟‏ قال أكتب مقادير كل شيء‏”‏ رواه أحمد والترمذي وصححه‏.‏
وروى أحمد والترمذي وصححه أيضا من حديث أبي رزين العقيلي مرفوعا‏:‏ إن الماء خلق قبل العرش‏.‏
وروى السدي بأسانيد متعددة إن الله لم يخلق شيئا مما خلق قبل الماء، فيجمع بينه وبين ما قبله بأن أولية القلم بالنسبة إلى ما عدا النور النبوي المحمدي والماء والعرش انتهى
Ia menyatakan berkenaan dengan yang demikian juga: Diperselisihkan adakah Qalam makhluk terawal selepas daripada nur Muhammad atau tidak? Al-Hafiz Abu Ya’la al-Hamadani: yang asah ialah ‘Arash sebelum daripada Qalam, mengikut riwayat yang sabit dalam kitab “Sahih” dari ibn ‘Umar; katanya: Sabda Rasulullah s.a.w: Allah menentukan takdir bagi sekelian makhluk sebelum Ia menjadikan langit-langit dan bumi lima puluh ribu tahun, ‘Arashnya atas air; ini sarih atau nyata dalam perkara takdir berlaku selepas daripada penciptaan ‘Arash; takdir ada pada awal mula tercipta Qalam; maka hadith ‘Ubadah bin al-samit, marfu’, “Awal diciptakan Allah ialah Qalam, kemudian Ia berfirman: Tulislah, kata Qalam: Apakah yang hamba (hendak) tulis? FirmanNya, “Tulislah takdir segala sesuatu” (Riwayat oleh Ahmad dan Tirmidhi; dianggapnya sahih).
Dan diriwayat oleh Ahmad dan Tirmidhi, dianggapnya sahih juga, dari hadith Abu Razin al-‘Uqaili, marfu’, “Bahawa air dicipta sebelum daripada ‘Arash”.
Dan al-Suddi meriwayatkan dengan sanad-sanad yang berbilang bahawa Allah tidak menjadikan sesuatu sebelum daripada penciptaan air, maka boleh dihimpunkan antara ini dan apa yang sebelumnya bahawa keawalan Qalam dalam hubungan dengan yang selain daripada Nur Muhammad, Air, dan ‘Arasy.Habis.
Dan yang menyebut kejadian yang pertama itu “al-Qalam” ialah:
824– أول ما خلق الله القلم‏.‏
رواه أحمد والترمذي وصححه عن عبادة بن الصامت مرفوعا بزيادة فقال له أكتب، قال رب وما أكتب‏؟‏ قال أكتب مقادير كل شيء،
قال ابن حجر في الفتاوى الحديثية قد ورد أي هذا الحديث بل صح من طرق، وفي رواية إن الله خلق العرش فاستوى عليه، ثم خلق القلم فأمره أن يجري بإذنه، فقال يا رب بم أجري‏؟‏ قال بما أنا خالق وكائن في خلقي من قطر أو نبات أو نفس أو أثر أو رزق أو أجل، فجرى القلم بما هو كائن إلى يوم القيامة، ورجاله ثقات إلا الضحاك بن مزاحم فوثقه ابن حبان وقال لم يسمع من ابن عباس، وضعفه جماعة، وجاء عن ابن عباس رضي الله عنهما موقوفا عليه‏:‏ إن أول شيء خلقه الله القلم، فأمره أن يكتب كل شيء ورجاله ثقات،
وفي رواية لابن عساكر مرفوعة إن أول شيء خلقه الله القلم، ثم خلق النون، وهي الدواة، ثم قال له اكتب ما يكون أو ما هو كائن – الحديث
وروى ابن جرير أنه صلى الله عليه وسلم قال ‏{‏ن ‏(‏في الأصل ‏(‏نون‏)‏ مكان ‏(‏ن‏)‏‏)‏ والقلم وما يسطرون‏}‏ قال لوح من نور، وقلم من نور، يجري بما هو كائن إلى يوم القيامة انتهى
824. Perkawa terawal dijadikan Allah ialah Qalam.
Riwayat Ahmad dan Tirmidhi, dikatakannya sahih, dari ‘Ubadah bin al-samit, marfu’, dengan tambahan, Ia berfirman: “Tulislah”, kata (Qalam)”Apakah yang hamba (akan) tulis?” FirmanNya: “Tulislah takdir segala sesuatu”.
Kata ibn Hajar dalam “al-Fatawi al-hadithah”: “Datang riwayat, iaitu hadith ini, bahkan ia sahih daripada beberapa jalan, dan dalam riwayat” Allah menjadikan ‘Arasy kemudian Ia beristiwa atasnya, kemudian Ia menjadikan Qalam, kemudian Ia memerintah supaya menulis dengan izinNya, katanya: Apakah yang hamba (akan) tulis? FirmanNya: tentang apa yang Aku jadikan dan yang ada dalam makhlukKu, terdiri daripada titik hujan, tumbuhan, nafas, bekas, rizki, atau ajal; maka Qalampun menulis tentang apa yang ada sampai ke Hari Kiamat. Rijalnya atau periwayatnya adalah mereka yang dipercayai (rijaluhu thiqat), melainkan Qahhak bin Muzahim, tetapi ibn Hibban menganggapnya boleh dipercayai, katanya ia tidak mendengar daripada ibn ‘Abbas, dan satu kelumpuk menganggapnya dhaif; dan datang riwayat daripada ibn ‘Abbas –Allah meredhai keduanya-maukuf atasnya: Perkara awal yang dijadikanNya Qalam, kemudian Ia menyuruhynya menulis; para periwayatnya boleh dipercayai (rijaluhu thiqat).
Dan dalam riwayat ibn ‘Asakir, marfu’, bahawa perkarea awal yang dijadikan Allah ialah Qalam, kemudian “Nun”, bekas dakwat, kemudian firmanNya, Tulislah, apa yang akan ada dan yang ada.
Dan diriwayatkan oleh ibn Jarir bahawa Baginda s.a.w. bersabda:
Nun, Demi Qalam dan apa yang mereka tulis katanya: Lauh daripada nur, Qalam daripada nur, yang menulis tentang apa yang ada sehingga hari Kiamat. Seterusnya dalam teks yang sama ada riwayat seperti berikut:
وفى النجم روى الحكيم الترمذي عن أبي هريرة أن أول شيء خلق الله القلم، ثم خلق النون وهي الدواة، ثم قال له أكتب، قال وما أكتب، قال أكتب ما كان وما هو كائن إلى يوم القيامة وذلك قوله تعالى ‏{‏ن والقلم وما يسطرون‏}‏ ثم ختم على فم القلم فلم ينطق ولا ينطق إلى يوم القيامة، ثم خلق الله العقل، فقال وعزتي وجلالي لأكْمِلَنَّكَ فيمَن أحببتُ، ولأنْقُصَنَّكَ فيمن أبغضت، وقال اللقاني ‏(‏في الأصل ‏(‏اللاقاني‏)‏‏)‏ في شرح جوهرته‏:‏ القلم جسم نوراني خلقه الله، وأمره بِكَتْبِ ما كان وما يكون إلى يوم القيامة، وتمسك عن الجزم بتعيين حقيقته، وفي بعض الآثار أول شيء خلقه الله القلم، وأمره أن يكتب كل شيء، وفي بعضها إن الله خلق اليراع، وهو القصب ثم خلق منه القلم، وفي رواية أول شيء كتبه القلم أنا التواب أتوب على من تاب انتهى‏.‏
Dalam “al-Najm”, al-Hakim al-Tirmidhi meriwayatkan dari Abu Hjurairah, bahawa “Perkara awal yang dijadikan Allah ialah Qalam; kemudian Nun, iaitu Bekas Dakwat, kemudian firmanNya; Tulislah, katanya: Apakah yang hamba (akan) tulis? FirmanNya: Tulislah apa yang ada, dan yang akan ada sampai ke Hari Kiamat. Itulah firmannya: Nun. Demi Qalam dan apa yang mereka tulis. Kemudian dikhatamkan atas mulut Qalam, lalu ia tidak berkata-kata, tidak berkata-kata sampai Kiamat. Kemudian Allah jadikan akal, Kemudian firmanNya; Demi KekuasaanKu dan KehebatranKu, Aku akan sempurnakan engkau dalam kalangan yang aku kasihi. Dan aku akan kurangkan engkau dalam kalangan mereka yang aku murkai.
Kata al-Laqqani dalam Syarah Jauharahnya: Qalam adalah jisim nurani (daripada nur), yang dijadikan Allah, lalu Ia perintahkan supaya ia menulis apa yang ada dan yang akan ada sampai Kiamat; ia tidak menjazamkan untuk menentukan hakikatnya; dalam setengah athar, perkara terawal yang Allah jadikan ialah Qalam, kemudian diperintahnya menulis tiap-tiap sesuatu, dalam setengah athar Allah menjadikan “yara” (seperti Qalam), atau Qasab, seperti Batang, kemudian dijadikan daripadanya Qalam. Dalam satu riwayat perkara awal yang ditulisman oleh Qalam ialah ‘Aku Maha penerima taubat, Aku menerima taubat mereka yang bertaubat’. Habis.
(al-‘Ajluni, dalam “Kashf al-Khafa’ wa Muzil al-Ilbas…”,
Dalam Kitab “Nazm al-Mutanathir min al-Hadith al-Mutawatir” oleh Imam Muhammad bin Ja’far al-Kattani rh, dalam ‘kitab al-iman sampai kitab al-manaqib’, no.194 di bawah hadith:”awwalu ma khalaqa’Llah”, terdapat kenyataan:
194-أول ما خلق اللّه
- ذكر الأمير في مبحث الوجود من حواشيه على جوهرة اللقاني أنها متواترة‏.‏
‏(‏قلت‏)‏ ورد في بعض الأحاديث أن أول ما خلق اللّه ‏(‏1‏)‏ النور المحمدي وفي بعضها ‏(‏2‏)‏ العرش في بعضها ‏(‏3‏)‏ البراع أي القصب وصح حديث أول ما خلق اللّه ‏(‏4‏)‏ القلم وفي غيره أول ما خلق اللّه ‏(‏5‏)‏ اللوح المحفوظ وجاء بأسانيد متعددة ‏(‏6‏)‏ أن الماء لم يخلق قبله شيء وفي بعض الأخبار ‏(‏7‏)‏ أن أول مخلوق الروح وفي بعضها ‏(‏8‏)‏ العقل إلا أن حديث العقل فيه كلام لأئمة الحديث بعضهم يقول هو موضوع وبعضهم ضعيف فقط*
وأجيب عن التعارض الواقع فيها بأن أولية النور المحمدي حقيقية وغيره إضافية نسبية وأن كل واحد خلق قبل ما هو من جنسه فالعرش
Al-Amir dalam bahas berkenaan dengan wujud, dalam syarahnya ke atas “Jauharah al-Laqqani”, bahawa hadith tentang itu mutawatir. Pengarang itu menyatakan bahawa ia berkata);
Datang riwayat dalam setengah hadith tentang perkara awal yang dijadikan itu (1) Nur Muhammad, dalam setengahynya (2) ‘Arasy, dalam setengahnya pula (3) “al-yara” iaitu qasab, Batang, dan sah hadith tentang perkara awal yang dijadikan Allah Qalam, dalam yang lain dinyatakan awal yang dijadikan Allah (4) Qalam, dalam yang lain pula awal dijadikanNya ialah (5) alo-lauh al-mahfuz, dan datang dalam berbilang sanad bahawa ia (6) Air, dan tidak dijadikan sesuatu sebelum daripadanya; dalam setengah riwayat (al-akhbar) ia (7) awal makhluk ialah ruh, dalam setengahnya (8) ‘Akal, melainkan hadith tentang akal di dalamnya ada kenyataan para imam hadith, setengahnya menyatakan maudhu’, setengahnya menyatakan daif sahaja.
Katanya: boleh dijawab berkenaan dengan percanggahan yang ada ini, bahawa nur Muhammad itu awal hakiki, yang lainnya awal secara idafi, atau bandingan, secara nisbah, tiap-tiap satu daripada (yang lainnya) dijadikan sebelum daripada yang terdiri daripada jenisnya; maka ‘Arasy sebelum daripada jisim-jisim yang kasar, akal sebelum daripada jisim-jisim yang halus (latif), ‘yara’ awal daripada makhluk tumbuhan (nabatiah), demikianlah. Allah Maha Mengetahui. (Dari “Nazm al-Mutanathir min al-hadith al-Mutawatir”, dari kitab al-iman sampai kepada kitab al-manaqib, -491 dalam
)
Dalam “Al-Mawahib al-Ladunniyyah bil-Minah al-Muhammadiyyah” (2 jilid), karangan Ahmad bin Muhammad bin Abu Bakr al-Khatib al-Qastallani (men.923 Hijrah), dalam jilid pertama halaman 5 terdapat kenyataan:
Ketahuilah wahai pembaca yang mempunyai akal yang sejahtera dan yang bersifat dengan sifat-sifat kesempurnaan dan kelengkapan – mudah-mudahan Allah memberi taufik kepadaku dan kepada anda-dengan hidayah kepada Jalan Yang Lurus bahawa sesungguhnya bila berlakulah (lit. bergantunglah) Iradat Allah taala untuk mengadakan makhluknya dan menentukan rezekinya, maka Ia menzahirkan hakikat Muhammadiyyah daripada Nur-Nur Samadiyyah dalam hadhrat Ahadiyah(Nya), kemudian Ia menjadikan alam-alam, semua sekali, alam tingginya dan alam rendahnya dalam rupa bentuk hukumNya sebagaimana yang telah terdahulu ada dalam IradatNya dan IlmuNya yang terdahulu (dari Azali lagi), kemudian Ia mem beritahu tentang kenabiannya dan berita baiknya dengan kerasulannya ini, walhal Adam masih belum ada, sebagaimana yang dinyatakannya bahada Adam adalah antara ruh dan jasad.
Kemudian terpancarlah daripadanya –salla’Llahu ‘alaihi wa sallam- ‘ain sekelian arwah, maka zahirlah Al-Mala’ al-A’la dengan mazhar yuang paling hebat, maka bagi mereka itu ada jalan yang paling manis, ia salla’Llahu ‘alaihi wa sallam, jenis tinggi, mengatasi segala jenis makhluk, ia Bapa Teragung bagi sekelian yang maujud dan manusia (sekelian).
Maka bila habislah masa dengan nama batinnya, dalam hubungan dengan hak salla’Llahu ‘alaihi wa sallam (untuk) wujud dalam rupa jisimnya, dan berkaikt ruh dengan jasadnya, berpindahlah hukum zaman kepada nama zahirnya, maka zahirlah Muhammad salla’llahu ‘alaihi wa sallam dengan keseluruhan jasad dan ruhnya walaupun terkemudian jasadnya (zahir) anda mengetahui tentang nilainya, (iaitu) ia adalah khizanah atau perbendahraan rahasia dan pusat berlakunya perintah; maka tidak lulus perintah melainkan daripadanya; tidak berpindah kebaikan melainkan daripadanya…Dikeluarkan riwayat hadith oleh Imam Muslim dalam kitab ‘Sahih’nya dari hadith ‘Abdullah bin ‘Umar dari Nabi s.a.w. bahawa Baginda bersabda: ‘Sesungguhnya Allah menentukan takdir bagi sekelian makhluk sebelum Ia menjadikan langit dan bumi selama lima puluh ribu tahun, dan ‘ArasyNya di atas air
…Dan dari “Irbad bin Sariyah dari Nabi s.a.w. ‘Sesungguhnya aku di sisi Allah sebagai khatam al-Nabiyyin-penutup sekelian nabi-walhal Adam masih terbujur dalam tanahnya (sebelum roh ditiupkan ke dalamnya);’ riwayat Ahmad dan Baihaqi serta al-Hakim. Kata al-Hakim isnadnya sahih.
Seterusnya kata beliau: Dari Maisarah al-Dabbi katanya, bahawa katanya: ‘Aku berkata, wahai rasulul.lah, bilakah tuan hamba menjadi nabi? jawabnya s.a.w. bersabda: ‘Waktu Adam masih antara ruh dan jasad.’ Ini lafaz riwayat Ahmad dan al-Bukhari dalam ‘; Tarikh’nya serta Abu Nu’aim dalam “al-Hilyah”, al-Hakim menyatakan ia sahih.
Selepas menyebut beberapa hadith lagi berkenaan dengan tajuk ini, Qastallani memberi huraian berkenaan dengan maksud hadith-hadith itu katanya:
Maka boleh diihtimalkan hadith itu (tentang Nabi Muhammad sudah nabi walhal Adam masih antara roh dan jasad) serta dengan riwayat al-‘Irbad bin Sariyah tentangt wajibnya kenabian bagi Baginda dan sabitnya, kemudian zahirnya pula ke alam nyata. Sesungguhnya penulisan (al-kitabah) digunakan dalam sesuatu yang wajib; firman Allah ta’ala (maksud)’Diwajibkan atas kamu (lit. dituliskan) puasa ‘ dan ‘Allah mewajibkan (lit. Allah menulis) bahawa Aku akan benar-benar mengatasi’. Dan dalam hadith dari Abu Hurairah (dinyatakan) bahawa mereka (iaitu para Sahabat) bertanya bilakah diwajibkan kenabian bagi tuan hamba? Baginda menjawab: ‘(Waktu) Adam masih antara roh dan jasad’. Riwayat Tirmidhi, katanya hadith hasan sahih.
Kemudian Qastallani menyebut riwayat dalam ‘Amali ibn Sahalal-Qattan’ dari Sahal ibn Salih al-Hamadhani katanya: Aku bertanya kepada Abu Ja’far Muhammad bin ‘Ali bagaimana nabi Muhammad menjadi nabi yang mendahului para anbia walhal Baginda terakhir dibangkitkan. Kata beliau: ‘Sesungguhnya Allah ta’ala –bila Ia mengambil dari anak Adam dari zuriat mereka dari belakang merekadan menjadikan mereka menjadi saksi atas diri mereka, ‘Tidakkah Aku Tuhan kamu?’ adalah nabi Muhammad orang yang pertama yang mengatakan ‘Ya, ‘ kerana itu Baginda menjadi terdahulu dari sekelian anbia walhal ia terakhir dibangkitkan (dalam sejarah dunia). Kalau anda berkata: ‘Nubuwwah adalah satu sifat yang mesti ada orang yang disifatkan itu, walhal sesungguhnya beliau itu ada hanya selepas sampai umur empat puluh tahun, maka bagaimanakah disifatkan beliau itu sebelum wujudnya dan sebelum ia diutus sebagai rasul? Maka boleh diberikan jawapan bahawa al-Ghazali dalam’ kitab al-nafkh wa al-taswiyah’ berkenaan dengan hal ini dan berkenaan dengan hadith ‘ Aku nabi terawal dari segi penciptaan dan terakhir dari segi dbangkitkan (dalam sejarah), bahawa maksud ‘penciptaan’ (al-khalq) di sini ialah takdir atau penetapan bukannya mengadakan (‘’al-taqdir duna al-ijad’); maka Baginda itu sebelum bondanya melahirkannya tidak wujud sebagai makhluk, tetapi (wujud) dalam bentuk matlamat-matlamat dan aspek-aspek kesempurnaan (‘al-ghayat wa al-kamalat’) yang mendahului dalam takdir yang mengikutinya dalam wujud.Inilah makna kata-kata mereka (yang bijaksana):’Awal fikiran ialah akhir amalan, dan akhir amalan adalah awal fikiran” (‘awwal al-fikrah akhir al-‘amal wa akhir al-‘amal awwal al-fikrah’).
Kemudian dalam memberi huraian tentang perkara ini beliau menyebut berkenaan dengan jurutera yang mempunyai konsep dan rupa bentuk (‘surah’) awal tentang bangunan yang hendak dibinanya dalam mindanya, dengan rupa bentuk yang lengkap sempurna (‘dar kamilah’); itulah yang ada dalam ‘takdir’ atau ketetapannya. Itulah yang ada kemudiannya yang zahir sebagai hasil daripada amalannya. Maka bangunan yang lengkap sempurna itu yang terawal dalam ‘takdir’nya, dan itulah yang terakhir dari segi wujudnya. Demikianlah-kiasnya- hadith ‘Aku nabi’ itu isyarat kepada apa yang dinyatakan, iaitru nabi dalam ‘takdir’ Ilahi sebelum sempurna penciptaan Adam a.s., kerana tidaklah diciptakan Adam melainkan untuk dikeluarkan daripada zuriatnya Mujhammad s.a.w.
Kemudian beliau menyatakan bahawa ‘hakikat ini tidak boleh difahami melainkan dengan mengetahui bahawa rumah atau bangunan itu ada dua wujud, satu wujud dalam minda jurutera dan otaknya, dan ia melihat kepada rupa bentuk rumah di luar daripada minda dalam zat-zat (al-a’yan’) dan wujud zihin adalah sebab bagi wujud yang zahir di luar zihin yang boleh dipandang dengan mata, dan itu mesti mendahului. Demikianlah- hendaklah anda ketahui- bahawa Allah menentukan takdir, kemudian Ia mengadakan mengikut persepakatan dengan takdir…(Dalam ‘al-Mawahib al-Laduniyyah’juz hal.7).
Selepas daripada ini beliau menyebut hadith-hadith berkenaan dengan awalnya Nur Muhammad s.a.w. dan bagaimana perkara-perkara lain dijadikan daripadanya.(Al-Mawahib al-laduniyyah, juz I hal 7 dst)
Tentang kedudukan ‘Abd al-Razzaq sebagai sandaran tentang hadith berkenaan dengan Nur Muhammad s.a.w. sebagai punca penciptaan segala, itu nampaknya tidak menjadi masalah, memandangkan antaranya al-Bukhari mengambil daripadanya 120 riwayat dan Muslim mengambil 400 riwayat. (GF Haddad, “Light of the Full Moon”..
Dalam hubungan dengan ‘Abd al-Razzaq, ada kenyataan dalam kitab Al-Risalah al-Mustatrafah li Bayan Mashhur Kutub al-Sunnah al-Musharrafah, karangan Maulana al-Imam al-Sayyid Muhammad Ja’far al-Kattani (Maktab al-Kulliyat al-Azhariyyah-Qahiran, tanpa tarikh) pada halaman 13 bahawa Musannaf Abi Bakr ‘Abd al-Razzaq bin Humam bin Nafi’ al-Humairi meninggal tahun 211 Hijrah adalah lebih kecil daripada Musannaf ibn Abi Shaibah, disusun mengikut kiktab-kitab dan bab-bab. Dan Jami’ ‘Abd al-Razzaq yang selain daripada ‘Musannaf’ adalah kitab yang terkenal jami’ yang besar dan kebanyakan daripada hadith-hadithnya dikeluarkan oleh Syaikhan (Bukhari dan Muslim) dan empat imam hadith Dengan itu beliau menerima ‘Abd al-Razzaq dengan baik sebagai muhaddith.
Seterusnya, dalam kitab Al-Shifa karangan Qadhi ‘Iyad rahimahu’Llah, terdapat kenyataan dari Ibn ‘Abbas rd. bahawa Nabi s.a.w. adalah ruhnya itu berada di sisi Allah sebelum Ia menjadikan Adam a.s. selama dua ribu tahun, bertasbih nur itu sebagai malaikat bertasbih; daripadanya dijadikan Adam a.s. Bila Adam dijadikan maka nur itu diletakkan pada sulbinya. Sabda nabi s.a.w. Kemudian Allah turunkan aku ke bumi dalam sulbi Adam, kemudian dijadikan aku dalam sulbi Nuh, sulbi Ibrahim, kemudian tidak berhenti-henti Allah memindahkan aku dari sulbi-aulbi mereka yang mulia-mulia dan rahim-rahim para wanita yang suci, sehinggalah Ia keluarkan daku dari kedua ibu bapaku, yang mereka itu tidak terkena kekejian sedikitpun. Yang menjadi saksi tentang sahihnya kisah dan khabar ini ialah sya’ir al-‘Abbas yang masyhur yang memuji Nabi s.a.w. (Kitab al-Shifa, oleh Qadhi ‘Iyad, I, hal.83).
Dalam hubungan dengan ayat yang bermaksud: “dan mengetahui tentang gerak-geri engkau dalam kalangan mereka yang sujud”, kata ibn ‘Abbas rd maknanya “dari seorang nabi kepada seorang nabi sehingga Aku keluarklan engkau sebagai nabi (di zaman engkau dibangkitkan).” (Qadi ‘Iyad, al-Shifa, I.halaman 15-16).
Dalam hubungan dengan ayat yang bermaksud: Allah adalah cahaya langit dan bumi, kata Ka’b al-Akhbar dan ibn Jubair maksud nur yang kedua itu, iaitu mithalan bagi nurnya, ialah Muhammad salla’Llahu ‘alaihi wa sallam. Maka mithalan bagi nurnya ialah Nur Muhammad s.a.w. Ia di pertaruhkan ke dalam sulbi-sulbi para anbia seperti ceruk cahaya (ka mishkat) sifatnya sedemikian, dan lampu (al-misbah) adalah kalbunya, kaca (al-zujajah) ialah dadanya: iaitu ia seumpama bintang kerana apa yang ada padanya terdiri daripada iman dan hikmah kebijaksanaan, yang dinyalakan daripada pokok yang diberkati, iaitu daripada Nur Ibrahim ‘alaihis-salam; diumpamakan sebagai pokok yang diberkati; hampir-hampir minyaknya menyala iaitu hampir-hampir nubuwwah nabi Muhammad itu …nyata kepada manusia sebelum daripada kata-katanya, seumpama minyak…(al-Shifa,I.hal.17-18).
Berhubungan dengan nur nabi ini dinyatakan dalam Al-Shifa.I.366:
Daripada yang demikian itu ialah zahir tanda-tanda pada waktu kelahiran Nabi s.a.w. dan apa yang dikisahkan oleh bondanya dan apa yang ada pada wakltu itu yang ajib-ajib, bagaimana ia mengangkat kepalanya waktu kelahirannya memandang ke langit, dan ada yang bondanya lihat nur yang keluar sewaktu Baginda dilahirkan; (juga) apa yang dilihat oleh Umm ‘Uthman ibn Abi al-‘As tentang bintang turun dan kemunculan nur sewaktu kelahiran Baginda sehingga sehingga tidak terlihat melainkan nur, dan kenyataan al-Shafa Umm ‘Abd al-rahman bin ‘Auf: Bila keluar Rasulullah s.a.w….Baginda Rasulullah s.a.w. …ia mendengar suara ‘Allah memberi Rahmat kepada anda dan cerah nyata bagiku antara Timur dan barat sehingga aku melihat istana-istana Rum” (ibid).
Dalam kitab al-Madkhal oleh ibn al-Hajj terdapat beberapa riwayat berkenaan dengan Nur Muhammad ini. Antaranya terdapat riwayat, iaitu: Dinukilkan oleh al-Imam ‘Abd al-Rahman al-Siqilli rahimahu’Llahu ta’ala dalam kitab ‘al-dalalat ‘ baginya, yang lafaznya ialah: Sesungguhnya Allah tidak menjadikan makhluk yang paling dicintai olehNya yang lebih lagi daripada umat ini; dan tidak ada yang lebih mulia lagi daripada nabinya salla’Llahu ‘alaihi wa sallam; kemudian para nabi selepas daripadanya, kemudian siddiqin, kemudian para aulia yang terpilih. Dan (berkaitan dengan) demikian itu sesungguhnya Allah menjadikan Nur Muhammad salla’llahu ‘alaihi wa sallam sebelum daripada dijadikan Adam selama dua ribu tahun, dijadikanNya dalam bentuk tiang di hadapan ‘Arasynya ia bertasbih kepada Allah dan mentakdiskanNya; kemudian Ia menjadikan Adam ‘alaihis-salatu was-salam, daripada Nur Muhammad s.a.w. dan dijadikanNya nur para nabi ‘alaihimus-salatu wassalam daripada Nur Adam ‘alaihis-salam, habis. (al-Madkhal ibn al-Hajj.II.28).
Seterusnya dalam al-Madkhal.II.29 terdapat riwayat:
Al-Faqih al-Khatib Abu al-Rabi’ memberi isyarat dalam kitabnya ‘Shifa’ al-Sudur’ kepada beberapa perkara yang hebat dan agung; antaranya apa yang diriwayat, iaitu bila Allah Yang Maha Bijaksana hendak menjadikan zat nabi salla’Llahu ‘alaihi wa sallam yang diberkati dan such, Ia memerintah Jibril a.s. turun ke bumi dan membawa dengannya bumi yang menjadi jantung bagi bumi, dengan kegemilangannya dan nurnya…(sampai kepada penciptaan nur Muhammad) dan nur Muhammad itu bergemilang di belakang Adam, maka para malaikat berdiri di belakang Adam melihat nur Muhammad salla’llahu ‘alaihi wa sallam …kemudian Adam memohon supaya nur itu diletakkan supaya ia sendiri boleh melihatnya, maka Allah menjadikan Adam boleh melihatnya…itu dengan isyarat ‘la ilaha illa’llah’ Muhammadun Rasulu’Llah dan sembahyang (dengan melihat kepada jari telunjuknya)…kemudian nur itu diletakkan di dahi Adam kelihatan seperti matahari dalam pusingan falaknya atau bulan dalam masa penuhnya (al-Madkhal ibn al-Hajj.II.30)
Dalam kitab yang sama disebut bagaimana perkara yang mula-mula dijadikan Allah ialah Nur Muhammad dan kemudian daripadanya dijadikan sekelian yang lainnya.
Berhubungan dengan Nur Muhammad ini terdapat kenyataan dalam kitab Hujjatu’Llah ‘alal-‘Alamin fi Mu’jizati Sayyidil-Mursalin oleh Syaikh Yusuf al-Nabhani. Katanya:
Maka tidak dikurniakan kemuliaan (‘karamah’) dan kelebihan (‘fadhilah’) kepada seseorang dari kalangan mereka (iaitu dari kalangan anbia) melainkan dikurniakan kepada Baginda salla’Llahu ‘alaihi wa sallam yang sepertinya. Maka Adam ‘alaihis-salam diberikan Allah kurnia, iaitu ia dijadikan Allah dengan TanganNya, maka Allah kurniakan pula kepada nabi Muhammad salla’llahu ‘alaihi wa sallam pembukaan dadanya dan pengambilannya rapat denganNya dengan melapangkan dadanya bagi DiriNya dan dijadikan di dalamnya iman dan hikmah kebijaksanaan, dan ini akhlak nabawi; maka kurniaan kepada Adam khalq wujud (baginya) dan kepada nabi Muhammad s.a.w. dikurniakan akhlak nabawi walaupun maksud kejadian Adam adalah penciptaan nabi kita dalam sulbinya; maka penghulu kita Muhammad s.a.w. adalah maksudnya dan Adam alaihis salam adalah wasilah baginya, dan maksud mendahului wasilah. Adapun sujud malaikat kepada Adam a.s., kata Fakhr al-razi dalam tafsirnya ialah: para malaikat itu diperintah sujud kepada Adam kerana ada Nur Muhammad s.a.w. pada dahinya. (hal.15 ).
Dalam al-Mustadrak oleh al-Hakim rh terdapat beberapa riwayat berkenaan dengan nur Baginda s.a.w. Antaranya ialah:
(Diriwayatkan kepada kami) oleh ‘Ali bin Hamshad al-‘adl secara rencana (imla), Harun bin ‘Abbas al-hashimi meriwayatkan kepada kami, Jundul bin Waliq meriwayatkan kepada kami, (seterusnya sampai kepada al-‘Abbas rd) bahawa Baginda bersabda: Allah mewahyukan kepada ‘Isa alaihis-salam, wahai ‘Isa, berimanlah engkau kepada Muhammad dan suruhlah sesiapa yang mendapatkan Baginda dari kalangan umatmu supaya beriman dengannya, kalaulah tidak kerana Muhammad Aku tidak menjadikan Adam, kalaulah tidak kerana Muhammad tidak Aku jadikan Adam, kalaulah tidak kerana Muhammad Aku tidak jadikan Syurga, dan Neraka, Aku jadikan ‘Arash atas air, kemudian ia bergoncang, maka ditulis atasnya ‘la ilaha illa’llah Muhammadun Rasulu’Llah, maka iapun tenang. (Ini hadith sahih (kata al-Hakim) yang tidak dikeluarkan oleh Bukhari dan Muslim). (al-Mustadrak al-Hakim II.614-615).
Dari Maysarah al-Fakhr, katanya bahawa ia bertanya kepada Rasulullah “Ya Rasulullah, bilakah tuan hamba menjadi nabi? Jawabnya: walhal Adam masih antara roh dan jasad. (al-Mustadrak.II.608-609). Sahih riwayatnya.
Dari Maisarah al-fakhr lagi, katanya bahawa ia bertanya kepada Baginda bila Baginda menjadi nabi. Jawabnya (Sewaktu) Adam masih antara roh dan j asad. Hadith sahih. (al-Mustadrak.II.609.)
Dari Irbad bin Sariah katanya: Aku mendengar Rasulullah s.a.w. berkata: Sesungguhnya aku di sisi Allah pada awal Kitab khatam sekelian anbiya, walhal Adam terbujur dalam jasadnya, aku akan memberitahu kepada kamu takwilan tentang itu, (aku) adalah do’a bapaku Ibrahim, berita gembira saudaraku ‘Isa kepada umatnya, dan aku pemandangan bondaku, yang ia lihat keluar daripadanya nur yang menjadikan terang baginya istana-istana di Syam. Sahih. (al-Mustadrak.II.600).
Berkenaan dengan yang demikian ada riwayat daripada Khalid bin Ma’dan, dari beberapa Sahabat nabi s.a.w. bahawa mereka bertanya kepada Baginda: Beritaku kepada kami berkenaan dengan tuan hamba.Baginda menjawab: Aku doa bapaku Ibrahim, berita gembira ‘Isa (kepada umatnya tentang aku akan diutus), dsan bondaku melihat sewaktu aku dilahirkan keluar daripadanya nur yang menerangi baginya Busra, dan Busra adalah di negeri Syam.Al-hakim menyatakan Khalid ibn Ma’dan dari kalangan tabi’in yang sebaik-baiknya yang bersahabat dengan Mu’adh bin Jabal.sahih pada al-Hakim.(al-Mustadrak.II.600).
Dalam kitab Jam’ al-Wasa’il fi Sharh al-Shama’il (lit-Tirmidhi) karangan Mulla ‘Ali bin Sultan Muhammad al-Qari rh (men. 1014 H.) ada terdapat beberapa huraian, antaranya:
Tentang kenyataan dalam Shama’il Tirmidhi bahawa orang yang melihat nabi tanpa mengenalinya terlebih dahulu terasa sangat hebat, maka Mulla ‘Ali al-Qari menghuraikan aspek kehebatan Baginda itu katanya: kerana ada pada Baginda sifat jalal dan atasnya ada kehebatan dari sisi Tuhan dan limpahan kurnia dari alam samawi (sifah al-jalal wa ‘alaihi al-haibah al-ilahiyyah wal-fuyud al-samawiyyah). (Jam’ al-wasa’il. hal. 28). Dan dalam kitab yang sama dalam kenyataan al-Shama’il bahawa Baginda itu lebih cantik daripada bulan –ahsan minal-qamar- beliau memberikan huraian katanya: tentang nurnya zahir dalam ufuk-ufuk (alam zahir) dan alam anfus (diri manusia) dengan tambahan sifat-sifat kesempurnaan dalam bentuk rupa lahir dan ma’nawi, bahkan pada hakikatnya tiap-tiap nur dijadikan daripada nurnya (ma’a ziyadah al-kamalat al-suwariyyah wal-ma’nawiyyah, bal fil-haqiqah kullu nurin khuliqa min nurih); dan dikatakan dalam hubungan dengan ayat bermaksud:’Allah adalah cahaya langit dan bumi, dan misalan bagi nurnya-iaitu nur Muhammad- maka nur wajahnya –s.a.w.- yang sejati, pada zatnya, tidak terpisah daripadanya sesaatpun malam dan siang, walhal nur bagi bulan muktasab, dipinjam (daripada cahaya matahari) sekali berkurang dan sekali terselindung. (jam’ al-Wassa’il Sharah al-Shama’il.hal.47).
Dalam huraian Shaikh al-Munawi rh tentang Baginda itu lebih cantik daripada bulan sebagaimana yang ternyata dalam kitab Shama’il al-Tirmidhi, beliau menyatakan: itulah wajah Baginda pada sisi tiap-tiap orang; dan dalam riwayat ibn al-Jauzi dan lainnya dari Jabir juga ‘pada mataku’ ganti bagi ‘pada sisiku’ (‘indi’); dalam riwayat Abu Nu’aim dari Abu Bakr adalah wajah Baginda itu seumpama pagar atau kandungan bulan (‘daratul-qamar’) dan bagi riwayat Darimi dari al-Rabi’ binti al-Mu’awwidh katanya: Aku melihatnya aku mel,ihat matahari sedang naik memancar. Dalam riwayat ibn al-Mubarak dan ibn al-jauzi dari ibn ‘Abbas bahawa Baginda tidak ada bayang (‘lam yakun lahu zill’), dan Baginda tidak berdiri dalam matahari melainkan cahaya Baginda mengatasi cahaya matahari, sebagaimana yang ada dalam Baijuri. (Sharah al-Muhaddith al-Shaikh al-Munawi pada Shama’il Tirmidhi,I. halaman 47).
Dalam huraian Shaikh al-Munawi lagi, dalam menghuraikan kata-kata bermaksud: seperti cahaya keluar antara celah-celah gigi Baginda, katanya: tidak perlu kepada kata ‘seperti’ (‘ka’) tambahan, seperti yang dilakukan oleh pensyarah (‘Shama’il’), bagaimana demikian, kerana itu (yang keluar di celah-celah gigi Baginda) adalah nur hissi (atau cahaya lahiriah, bukan maknawi, abstrak), dan kata beliau kalau tidak hissi maka bagaimana digunakan ru’iya-dilihat. Ertinya ia bukan ma’nawi. (ibid.I.55-56).
Dalam hubungan dengan kenyataan dalam al-Shasma’il bila nabi s.a.w. datang ke Madinah menjadi cerah (tiap-tiap sesuatu) ,kata Mulla ‘Ali al-Qari iaitu: menjadi cerah tiap-tiap juzuk dari kota Madinah dengan nur yang hissi-atau cahaya lahiriah yang dipandang dengan mata—atau juga cahaya ma’nawi kerana dengan masuknya Baginda maka ada cahaya hidayah yang am dan terangkat kerananya berbagai jenis kegelapan, dengan isyarah bahasa menunjukkan teramat sangat (al-mubalaghah), yang tiap-tiap sesuatu dari alam ini mengambil cahaya dari Madinah pada hari itu. Ataupun pencerahan itu ialah kiasan bagi kesukaan yang amat sangat bagi para penduduk kota itu – serta dengan tidak mempedulikan (dalam suasana itu) kepada mereka yang berseteru (dengan Baginda dan Islam). Beliau juga menyebut pendapat al-Tibbi yang memandang itu adalah cahaya secara hissi. (Mulla ‘Ali al-Qari, Sharah al-Shama’il al-Tirmidhi, II.209).
Dalam syarah al-Munawi berkenaan dengan potongan yang sama dalam al-Shama’il Tirmidhi katanya: Yang asah ialah maksudnya tiap-tiap juzuk daripada juzuk-juzuk kota Madinah itu menjadi cerah dengan cahaya secara hakikatnya (bukan kiasan lagi) bukan tajrid (bukan secara abstrak lagi), bagaimana tidak, walhal Baginda itu zat dirinya pada keseluruhannya adalah cahaya (‘wa qad kanat dhatuhu kullaha nuran) maka Allah taala telah berfirman: Telah datang kepada kamu dari Allah Nur dan Kitab yang nyata, maka Baginda adalah cahaya yang menjadikan cerah bagi sekelian alam, dan Baginda adalah lampu yang cerah mengeluarkan cahaya. (Sharah al-Munawi atas al-Shama’il Tirmidhi, di tepi syharah Mulla ‘Ali al-Qari, II.55).
Dalam al-Mawahib al-Laduniyyah – Hashiyah Shama’il al-Tirmidhi karangan Shaikh Ibrahim al-Bajuri (men. 1276 Hijrah) terdapat beberapa kenyataan yang mencerahkan. Dalam hubungan dengan potongan yang bermaksud: iaitu orang yang melihat Baginda secara badihah (belum mengenalinya) akan merasa hebat dengannya-iaitu melihat Baginda sebelum menilik kepada akhlaknya yang teramat tinggi dan hal dirinya yang teramat berharga, merasa gerun dengannya, kerana ada padanya sifat jalal atau kehebatan dari sisi Tuhan (sifat al-jalal al-rabbaniyyah) dan apa yang ada padanya dari kehebatan dari sisi Tuhan (lima ‘alaihi minal-haibah al-ilahiyyah).
Kemudian beliau mengutip kata-kata dari ibn al-Qayyim: Perbezaan antara kehebatan dan takabur (pada seseorang insan) ialah: kehebatan itu adalah kesan daripada beberapa kesan yang banyak yang memenuhi kalbu orang itu kerana merasa kehebatan Allah (bi ‘azamati al-rabb) dan kasih kepadaNya, serta merasa Ketinggian HebatNya (wa ijlaliHi); maka bila hati seseorang penuh dengan yang demikian bertempatlah padanya nur, turunlah atasnya rasa ketenangan dan kebeningan (al-sakinah), dan dipakaikanlah kepadanya selendang kehebatan; maka (dengan yang demikian) jadilah percakapannya nur, ilmunya nur, kalau ia diam, maka ada atas dirinya kehebatan dan keagungan (al-waqar), dan bila ia berkata-kata
Ia menarik hati manusia dan pandangan mereka. Adapun sikap takabur itu adalah kesan daripada sekian banyak kesan yang memenuhi kalbu, daripada kejahilan, kezaliman, dan ujub atau heran kepada diri sendiri. Maka bila kalbu dipenuhi dengan yang demikian, terkeluarlah daripadanya kehambaan (‘ubudiyyah) dan turunlah ke atasnya kegelapan zulmat, sifat marah, maka berjalannya antara manusia dengan bongkak, mu’amalahnya dengan mereka secara takabur, tidak memulakan memberi salam (kepada orang lain)…(dalam al-mawahib al-laduniyyah –hashiyah al-Shaikh Ibrahim al-Bajuri ‘ala al-Shama’il al-Muhammadiyyah lit-Tirmidhi-hal.16).
Dalam kitab yang sama (hal.19) dalam hubungan dengan potongan dalam al-shama’il yang bermaksud: Adalah Baginda salla’llahu ‘alaihi wa sallam bercahaya-cahaya wajahnya seumpama bercahayanya bulan sewaktu penuh purnama –lalatul-badr-iaitu malam kesempurnaannya, kerana Nabi s.a.w. menghapuskan kegelapan kufur sebagaimana bulan menghilangkan kegelapan malam, dan sesungguhnya datang riuwayat (juga) misalan Baginda seumpama matahari dengan memandang kepada matahari itu lebih lengkap dalam pencerahan kegimalangan cahayanya, dan pencerahan dengan cahayanya itu ada juga datang misalan Baginda seumpama kedua-duanya (matahari dan juga bulan) dengan memandang kepada keadaan Nabi s.a.w. menghimpunkan dalam dirinya tiap-tiap segi kesempurnaan, dan misal umpama itu adalah sekadar untuk mendekatkaqn kepada faham, kalau tidak tidak ada apa-apa yang menyamai Baginda dalam gambaran sifat-sifatnya.
Dalam teks yang sama (hal. 24) dalam hubungan dengan kenyataan Jabir bahawa ia melihat Rasulullah s.a.w. pada malam bulan penuh purnama —aku melihat kepada Baginda dan kepada bulan padaku Baginda lebih cantik daripada bulan.(ahsan minal-qamar), kata al-Baijuri:
Yang demikian itu adalah pada tiap-tiap orang yang melihat Baginda s.a.w. Hanyasanya Baginda itu lebih cantik kerana nurnya mengatasi nur bulan (li’anna dau’ahu yaghlibu ‘ala dau’I al-qamar), bahkan mengatasi cahaya matahari (bal wa ‘ala dauy’i al-shamsi); bahkan dalam satu riwayat ibn Mubarak dan ibn al-Jauzi Baginda itu tidak ada bayang, dan bila Baginda berdiri dalam sinaran cahaya matahari maka cahayanya mengatasi cahaya matahari, dan bila ia berdiri dalam cahaya lampu maka cahayanya mengatasi cahaya lampu itu. (ghalaba dau’uhu ‘ala dau’i al-siraj).
Dan berkenaan dengan cahaya yang keluar di celah-celah gigi Nabi s.a.w. al-Baijuri menafsirkan bahjawa itu cahaya hissi bukan hanya ma’nawi, sebab kalimah ru’iya itu merujuk kepada melihat. (ibid. hal. 27).
Dan dalam hubungan dengan kenyataan kota Madinah cerah dengan cahaya dengan kedatangan nabi s.a.w. beliau memahaminya cahaya yang hissi selain daripada yang ma’nawinya. (ibid. hal.196).
Dalam hubungan dengan hadith yang kuat sandarannya dalam Tirmidhi berkenaan dengan Allah mengenakan cahayanya atas sekelian makhluk, dan yang mengenanya dan yang tidak mengenannya ialah seperti berikut:
حَدَّثَنَا ‏ ‏الْحَسَنُ بْنُ عَرَفَةَ ‏ ‏حَدَّثَنَا ‏ ‏إِسْمَعِيلُ بْنُ عَيَّاشٍ ‏ ‏عَنْ ‏ ‏يَحْيَى بْنِ أَبِي عَمْرٍو السَّيْبَانِيِّ ‏ ‏عَنْ ‏ ‏عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الدَّيْلَمِيِّ ‏ ‏قَال سَمِعْتُ ‏ ‏عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَمْرٍو ‏ ‏يَقُولُ ‏
‏سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ ‏ ‏صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ‏ ‏يَقُولُ ‏ ‏إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ خَلَقَ خَلْقَهُ فِي ظُلْمَةٍ
فَأَلْقَى عَلَيْهِمْ مِنْ نُورِهِ فَمَنْ أَصَابَهُ مِنْ ذَلِكَ النُّورِ اهْتَدَى وَمَنْ أَخْطَأَهُ ضَلَّ فَلِذَلِكَ أَقُولُ جَفَّ الْقَلَمُ عَلَى عِلْمِ اللَّهِ
‏قَالَ ‏ ‏أَبُو عِيسَى ‏ ‏هَذَا ‏ ‏حَدِيثٌ حَسَنٌ
Diriwayatkan kepada kami oleh al-Hasan bin ‘Arafah, Isma’il bin ‘Iyash meriwayatkan kepada kami dari Yahya bin Abi ‘Amru al-Syaibani, dari ‘Abdullah bin al-Dailami, katanya Aku mendengar ‘Abdullah bin ‘Amru berkata: Aku mendengar Rasulullah salla’Llahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Sesungguhnya Allah ‘Azza wa jalla menjadikan sekelian makhluk dalam zulmah, kemudian Ia melemparkan ke atas mereka daripada NurNya, maka sesiapa yang terkena daripada Nur itu dia mendapat hidayat dan sesiapa yang tidak terkena Nur itu atasnya ia tersesat.Dengan itu maka aku berkata: Qalam sudah kering atas Ilmu Allah.Kata Abu ‘Isa (Tirmidhi): hadith hasan.
Hadith ini ialah berkenaan dengan takdir Ilahi tentang taraf-taraf makhluk mendapat cahaya-nur- dari Tuhan dalam kehidupannya dan agamanya. Dengan ini maka boleh difahamkan bahawa hidup mukminin adalah berdasarkan hakikat cahayanya, dan Nabi s.a.w. adalah mukmin yang pertama sekali yang mendapat bahagian cahaya itu, dan ia melebihi orang lain dengan sifatnya sebagai cahaya- termasuklah melebihi walaupun malaikat yang terjadi daripada cahaya. Maka Nabi s.a.w. adalah makhluk pertama yang mendapat cahaya itu melebihi para malaikat dan lainnya.
Dalam kitab Al-Anwar al-Muhammadiyyah mkin al-Mawahib al-laduniyyah karangan Syaikh Yusuf bin Ismai’l al-Nabhani (Dar al-Fikr, tanpa tarik) disebut oleh beliau beberapa maklumat berkenaan dengan Nur Muhammad. Antaranya ialah seperti berikut:
Maksud yang pertama (dalam Kitab al-Anwar al-Muhammadiyyah…): Ketahuilah bahawa bilamana berhubung Iradat Allah Taala bagi mengadakan makhlukNya maka Ia menzahirkan Hakikat Muhammadiyyah dari anwarNya (dengan Qudrat dan IradatNya-UEM) kemudian Ia menimbulkan daripada (nur itu) alam-alam semuanya, alam tingginya dan alam rendahnya, kemudian Ia memasyhurkan kenabian Baginda walhal Adam belum ada lagi, melainkan sebagaimana yang disabdakan oleh Baginda salla’llahu ‘alaihi wa sallam-(ia adalah) antara roh dan jasad (yakni belum ada lagi), kemudian terpancarlah daripada Baginda (yaitu nurnya itu-UEM) para arwah , maka ia adalah dari jenis yang tinggi mengatasi semua jenis, dan ia adalah bapa akbar (punca terbesar) bagi sekelian yang wujud (al-ab al-akbar li-jami’ al-maujudat);dan bila habis edaran masa dengan Nama yang Batin pada haknya salla’Llahu ‘alaihi wa sallam (bagi berpindah) kepada wujud jasadnya dan pertambatan roh dengannya, berpindahlah hukum zaman itu kepada Nama yang Zahir, maka zahirlah Muhammad salla’Llah u ‘alaihi wa sallam dengan keseluruhan (dirinya dan hakikat)nya, dengan jisim dan rohnya sekali. Maka (makna yang sedemikian itu boleh terdapat) dalam (riwayat) Sahih Imam Muslim, bahawasanya Baginda bersabda: Sesungguhnya Allah Taala memaktubkan takdir sekelian makhluk (maqadir al-khalq) sebelum dijadikan langit dan bumi selama lima puluh ribu tahun (melambangkan masa yang terlalu amat lama yang tidak boleh ditentukan oleh manusia-UEM) dan ‘ArashNya berada di atas air. Dan termasuk ke dalam jumlah yang termaktub (demikian itu) ialah bahawa Nabi Muhammad adalah khatam al-Nabiyyin. (Maka dalam hubungan dengan hakikat yang sedemikian itulah ada riwayat-UEM) dari al-‘Irbad bin Sariyah dari Nabi salla’Llahu ‘alaihi wa sallam bahawa Baginda bersabda: Sesungguhnya aku di Sisi Allah adalah khatam sekelian para nabi walhal Adam masih terbujur dalam jasadnya, terbujur jasaadnya, belum tertiup roh padanya. Dan (ada riwayat hadith) dari Maisarah al-Dabbi katanya: Aku bertanya kepada Baginda: Wahai Rasulullah, bilakah tuanhamba menjadi nabi? Jawabnya: Sewaktu Adam masih antara roh dan jasad. (hal. 9)
Dalam Sahih Muslim dari Nabi salla’Llahu ‘alaihi wa sallam bahawa Baginda bersabda: Sesungguhnya Allah azza wa jalla memaktubkan takdir sekelian makhluk sebelum dijadikan langit dan bumi selama lima puluh ribu tahun dan ‘ArashNya berada di atas air, dan termasuk ke dalam jumlah yang termaktub dalam Ibu Kitab ialah bahawa Nabi Muhammad adalah khatam sekelian anbia. (ibid. hal.9).
Dan dari al-‘Irbad bin Sariyah dari Nabi salla’Llahu ‘alaihi wa sallam: sabdanya: Sesungguhnya aku di sisi Allah adalah khatam anbiya’ walhal Adam terbujur dalam jasadnya iaitu terbujur sebelum ditiupkan roh padanya. (ibid. hal. 9-10).
Hadith-hadith yang menunjukkan kedudukan hakiki dan kelebihan nabi salla’Llahu ‘alaihi wa sallam juga dibicarakan oleh al-Imam Suyuti (men. 911 Hijrah) dalam kitabnya al-Hawi lil-Fatawi, (Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, Beirut, 1421/2000) dalam jilid 2 hal.136 dan seterusnya. Beliau menulis antaranya:
Hadith dari Saidina ‘Umar bin al-Khattab, Anas, Jabir, ibn ‘Abbas, ibn ‘Umar, Abi Darda’, Abu Hurairan dan lainnya (meriwayatkan) bahawa nabi salla’Llahu ‘alaihi wa sallam memberitahu yang Baginda itu tertulis (namanya) atas ‘Arash dan tiap-tiap langit, dan tiap-tiap pintu Syurga, atas daun-daun Syurga: ‘la ilaha illa’Llah Muhammadun Rasulullah’ Dan tidak termaktub yang demikian itu dalam alam malakut melainkan atas daripada nama-nama anbia lainnya [dan itu tidak lain] melainkan untuk para malaikat menyaksikannya dan [untuk mereka mengetahui] hal keadaan Baginda diutus kepada mereka[ juga selain daripada diutus kepada manusia].
Dan ibn ‘Asakir mengeluarkan riwayat daripada Ka’b al-Ahbar bahawa Adammemberi wasiat kepada anaknya Syith katanya: Tiap-tiap kali kamu berzikir menyebut nama Allah maka sebutkan juga dengannya nama Muhammad; sesungguhnya aku melihat nama Baginda itu termaktub atas tiang ‘Arash walhal aku di antara ruh dan jasad, kemudian aku mengerling lihat lalu aku dapati tidak ada mana-mana tempat di langit melainkan tertulis padanya nama Muhammad. Dan aku tidak melihat dalam Syurga sebuah istana dan bilik melainkan tertulis padanya nama Muhammad, dan aku melihat namanya tertulis atas leher bidadari… (hal 136-137 al-Hawi).
Imam al-Suyuti seterusnya menyatakan seperti berikut:
Dan al-Subki menyatakan dalam kitab karangannya bahawa Baginda salla’Llahu ‘alaihi wa sallam diutus kepada sekelian anbia –Adam dan nabi-nabi kemudiannya, bahawa Baginda salla’Llahu ‘alaihi wa sallam adalah nabi bagi mereka dan Rasul atas mereka semuanya, dan boleh diambil dalil tentang yang demikian itu daripada hadith nabi salla’Llahu ‘alaihi wa sallam ‘Aku sudah nabi walhal Adam [masih] antara ruh dan jasad’ dan hadithnya ‘Aku dibangkitkan kepada umat manusia seluruhnya’ (bu’ithtu ilan-nas kaffatan’). Katanya [yakni kata al-Subki]: Dan kerana ini Allah mengambil janji atas semua nabi-nabi untuk nabi Muhammad, seperti dalam firman Allah: [bermaksud] ‘Dan Allah mengambil perjanjian …adakah kamu berikrar dan mengambil sebagai perjanjian denganKu, mereka berkata kami berikrar, firmanNya Saksikanlah, Aku bersama kamu sebagai saksi’ [Ali ‘Imran.81][Kata Imam al-Suyuti]: Dikeluarkan hadith oleh ibn Abi Hatim dari al-Suddi tentang ayat itu, katanya: Tidak dibangkit seseorang nabi mulai dari Adam melainkan Allah mengambil janjinya supaya ia benar-benar beriman dengan Muhammad .Dan ibn ‘Asakir mengeluarkan hadith dari ibn ‘Abbas, katanya: Terus-menerus Allah mengutamakan dan mendahulukan nabiu Muhammad salla’Llahu ‘alaihi wa sallam sampai kepada Adam dan nabi-nabi selepas daripadanya …(ibid.II.137)
Dan al-Hakim mengeluarkan hadith dari ibn ‘Abbas katanya: Allah mewahyukan kepada ‘Isa: Berimanlah engkau den gan Muhammad dan suruhlah sesiapa yang bertemu dengan Baginda itu dari umatmu supaya beriman dengannya, kalaulah tidak kerana Muhammad Aku tidak jadikan Adam, Syurga, dan Neraka.
Kata al-Subki: Kita tahu melalui khabar [hadith] yang sahih hasilnya kesempurnaan –sebelum Adam dijadikan lagi- bagi nabi kita Muhammad salla’Llahu ‘alaihi wa sallam dari sisi Tuhannya, dan Tuhan telah kurniakan kmepada Baginda itu nubuwwah dari waktu itu lagi [waktu Adam pun belum ada], kemudian Allah mengambil dari para nabi ikut janji untuk beriman dengan Muhammad, untuk memberitahu kepada mereka bahawa bagfinda itu terdahulu dean terkedepan daripada mereka, dan Baginda itu nabi dan rasul bagi mereka, dan pada makna mengambil janji itu ada makna istikhlaf [yakni para nabi lain itu bertindak atas nama Muhammad], kerana itu masuklah di dalamnya [dalam kata-kata tentangnya] lam al-qasam dalam ‘latu’minunna bihi’ dan ‘wa latansurunnahu’ [maknanya kamu benar-benar beriman dengannya dan kamu benar-benar menolongnya bila sampai masanya]. (ibid.II.137)
Kemudian Imam al-Suyuti seterusnya menyebut tentang kelebihan nabi s.a.w. diambil janji untuknya, bagaimana nabi-nabi lain menjadi makmum sembahyang di belakangnya pada malam Isra’ Mi’raj, kemudian bagaimana nabi ada dua wazir di langit Jibril dan Mika’il, dan di bumi dua, iaitu Abu Bakar dan ‘Umar, berdasarkan hadith yang dikeluarkan oleh ibn al-Mundhir, ibn Abi Hatim, al-tabarani, ibn Marduyah, dan Abu Nu’aim dalam ‘al-Dala’il’.
Pada tahap ini penulis ingin menukilkan catatan Dr GF Haddad dalam artikelnya “The Light of Muhammad” dalam artikelnya “The First Thing that Allah created was my nur” dalam 
Antara para ulama yang disebut oleh beliau yang membicarakan soal Nur Muhammad ialah:
Qadi ‘Iyad yang terkenal dengan kitab al-Shifanya,
Imam al-Suyuti dalam Tafsir Jalalainnya
Firuzabadi dalam Tanwir al-Miqbasnya atau tafsir ibn ‘Abbasnya
Imam Fakhru’d-Din al-Razi, mujaddid abad ke 6 Hijrah, dengan Tafsir al-Kabirnya
Qadi al-Baidawi dengan Tafsir al-Baidawinya
Al-Baghwi dengan Ma’alim al-Tanzilnya
Pengarang tafsir Abi Su’ud dengan huraiannya
Al-Tabari dengan Tafsir at-tabarinya
Pengarang Tafsir al-Khazin dengan huraiannya
Al-Nasafi dengan Tafsir al-Madariknya
Al-Sawi dengan syarahnya atas al-jalalain
Al-Alusi dengan Ruh al-ma’aninya
Ismail Haqqi dengan syarahnya atas Tafsir Ruh al-Ma’ani
Al-Qari dengan Sharah al-Shifanya
Suyuti dengan al-Riyad al-Aniqanya
Ibn Kathir dengan Tafsirnya
Qadi ‘Iyad dengan al-Shifanya
Al-Nisaburi dengan tafsirnya Ghara’ib al-Qur’an
Al-Zarqani dengan Sharah al-mawahib al-laduniyyahnya
Ibn Hajar dengan al-Isabahnya
Tirmidhi dengan Sunannya
Baihaqi dengan Daala’il al-Nubuwwahnya
Ibn Hajar Haitami dengan D ala’il al-Nubuwwahnya
Bukhari, Muslim dan Imam Ahmad dengan kitab hadith mereka masing-masing yang memberi gambaran tentang nabi s.a.w.
Al-Hakim dengan al-Mustadraknya
Ibn Kathir dengan Tafsirnya dan Maulid Rasul Allahnya
Ibn Ishaq dengan Sirahnya
Dhahabio dengan Mizan al-I’tidalnya
Al-Tabari dengan al-Riyad al-Nadiranya
Al-Shahrastani dengan al-Milal wan-Nihalnya
‘Abd al-Haq al-Dihlawi dengan Madarij al-Nubuwwahnya (dalam Bahasa Parsi)
‘Abd al-Hayy al-Lucknowi dengan al-Athar al-marfu’ fi al-akhbar al-maudu’anya
‘Abd al-Razzaq dengan Musnadnya
‘Abidin (Ahmad al-Shami) men.1320 H. dengan komentarnya atas syair ibn Hajar al-Haitami al-Ni’;matul-Kubra ‘alal-‘Alamin
Al-‘Ajluni (Isma’il bin Muhammad, men.1162) dengan Kashf al-Khafa’nya
Bakri (Sayyoid Abu al-hasan Ahmad ibn ‘Abd Allah men.abad ke3 H) dengan al-Anwar fi Maulid al-Nabi Muhammad salla’Llahu ‘alaihi wa sallamnya
Diyarbakri (Husain bin Muhammad, meninggal 966 H.) yang memulakan kitabnya Tarikh al-Khamis fi Ahwal Anfasi Nafisa dengan kata-kata Segala puji-pujian tertentu bagi Allah yang menjadikan cahaya nabiNya sebelum daripada segala sesuatu…”
Fasi (Muhammad ibn Ahmad men.1052 H.) dengan kitabnya Matali’ al-Masarrat
Shaikh ‘Abd al-Qadir al-Jilani men.561 H. dengan kitabnya Sirr al-Asrar fi Ma Yuhtahu ilaihi al-Abrar (hal.12-14 edisi Lahore) yang menyatakan: Ia memberi dalil bahawa Baginda adalah punca bagi segala sesuatu yang maujud, dan Allah Maha Mengetahui.
Haqqi (Ismail, men.1137) menukil hadith itu dalam tafsirnya Ruh al-Bayan
Ibn Hajar al-Haitami (men.974 H) dengan Fatawa Hadithiyyahnya
Syaikh Ismail al-Dihlawi (men.1246 H) dengan risalahnya Yek Rauzah di mana beliau menyatakan: Sebagaimana yang diisyaratkan oleh riwayat: perkara yang awal dijadikan Allah adalah nurku.
Sulaiman al-Jamal (men.1204 H) yang menukil hadith tentang nur Muhammad awal-awal dijadikan Allah, dalam syarahnya ke atas al-Busiri berjudul al-Futuhat al-Ahmadiyyah bi al-Minah al-Muhammadiyyah.
‘Abd al-Qadir al-Jili dengan Namus al-A’zam wa al.-Qamus al-Aqdam fi Ma’rifat Qadar al-Bani sallka’lahu ‘alaihi wa sallam menyebut hadith nur Muhammad.
Kharputi (‘Umar bin Ahmad, men.1299) dalam syarahnya terhadap al-Busiri menyebutnya.
Maliki al-Hasani (Muhammad ibn ‘Alawi) menyebutnya dalam syarahnya terhadap kitab al-Qari Hasyiyah Al-Maurid al-Rawi fi Maulid al-Nabi. Pada halaman 40 beliau menyatakan “Sanad Jabir adalah sahih tanpa pertikaian, tetapi ulama berbeza pendapat tentang teksnya kerana khususiahnya, Baihaqi juga meriwayatkan hadith itu dengan beberapa kelainan.”
MUHAMMAD ‘UTHMAN EL-MUHAMMADY (UEM), KONSEP NUR MUHAMMAD DI DUNIA MELAYU DALAM KONTEKS WACANA SUNNI,
Ini antara teks-teks yang disebut oleh beliau dalam tulisannya.
Inilah antara yang terlintas pada penulis yang kurang pengetahuan ini untuk menukilkan riwayat-riwayat dari punca-punca para ulama yang muktabar dalam umat ini untuk kefahaman dan pegangan bersama. Mudah-mudahan kita semua mendapat rahmat dan barakah dariNya.
Amin ya Rabbal-‘alamin.
Wallahu’a’lam.

No comments:

Not Indonesian?

Search This Blog