al-qur'an tentang alam semesta


Bintang itu berapa sih banyaknya? Kalau kita mampu dan mau betah berjam-jam menghitungnya, maka dengan mata telanjang, bintang yang dapat kita lihat berjumlah sekitar 5.000.
Dengan pertolongan teleskop yang punya garis tengah 10 cm saja, jumlahnya berlipat ganda menjadi dua juta bintang! Apalagi bila digunakan teleskop raksasa bergaris tengah 5 meter, seperti di Mount Palomar, jumlah bintang yang bisa diamati lebih dari semilyar (ingat, nolnya saja sudah 9).
Konon lagi bila dipakai teleskop 100 meter, wah…!


Memang sampai saat ini, “seberapa besar” jagad raya belum bisa diketahui. Apalagi kalau ditanya, “tepi alam semesta dimana” atau yang lebih susah lagi, “kalau alam ini ada pinggirannya, lalu diluar pinggir itu apa?”
Sebenarnya matahari yang menyinari hidup kita setiap hari ini, ia adalah sejenis bintang juga, sama seperti bintang lain yang terlihat pada malam hari. Kenapa ia tampak lebih terang? Sebab ia memang relatif lebih dekat ke bumi kita, yakni 150 juta kilometer atau sekitar 8,3 menit perjalanan cahaya (padahal kecepatan gerak cahaya saja sudah 300.000 km/detik).
Bintang lain yang juga paling dekat dengan kediaman kita ini adalah Alfa Centauri, yang jaraknya 4,4 tahun perjalanan cahaya. Kendati kita menyebutnya bintang paling dekat … sebenarnya ya jauh juga. Bayangkan saja, jaraknya itu 279.000 kali jarak matahari-bumi.
Bintang-bintang itu pun tidak hidup sendiri-sendiri. Mereka berkelompok membentuk gugusan bintang yang disebut galaksi. Matahari (berarti juga bumi) bersama bintang lainnya termasuk ke dalam kelompok galaksi Bima Sakti.
Jumlah bintang dalam galaksi ini ditaksir mencapai 200 milyar bintang! Bentuknya seperti cakram dan mempunyai garis tengah 100.000 tahun perjalanan cahaya. Matahari terletak pada posisi 30.000 tahun cahaya dari pusat galaksi. Artinya jika kita terbang dengan kecepatan cahaya (300.000 km/detik lho), kita baru akan sampai ke pusat galaksi setelah 30.000 tahun lamanya.
Padahal galaksi Bima Sakti ini bukan satu-satunya galaksi yang ada di alam semesta ini. Ada milyaran galaksi lain bertaburan di dalamnya.
Bila kita andaikan setiap galaksi mengandung jutaan atau milyaran bintang, subhanallah! sungguh tak terbayangkan betapa besar alam semesta ini. Sulit sekali untuk memperkirakan berapa luasnya alam semesta milik Allah itu. Sungguh menakjubkan. Allah Maha Agung, Allahu akbar!
Adakah bumi dan makhluk hidup lain di bintang sana?
Timbul pertanyaan, apa tidak mungkin diantara bintang-bintang itu ada bintang yang sifatnya sama dengan Matahari kita? Yang juga mempunyai bumi, seperti bumi kita, yang punya tingkat kehidupan, yang berpenghuni, apapun makhluknya?
Memang saat ini, belum bisa kita pastikan adanya tanda-tanda kehidupan di luar sana. Tapi tentu, kita tak bisa lantas meng-claim “Tidak Ada”, hanya karena teknologi kita belum mampu melacaknya, hanya karena kita tidak tahu kepastiannya. Inilah tantangan buat kita, manusia!
Namun, ada satu hal yang amat menarik kalau kita membuka lembaran-lembaran Al-Quran, yaitu banyak hal-hal yang dibicarakan di dalamnya mengenai fenomena-fenomena alam yang justru lebih difahami maknanya pada abad modern ini, baik tentang hukum-hukum fisika, hukum sejarah, sains dan teknologi, maupun dinamika sosial dan budaya.
Memang Quran tidak seperti buku fisika, penuh detail-detail hukum alam. Karena Quran sifatnya global, garis besar, yang disajikan dalam makna simbolis. Hal ini dimaksudkan, agar supaya manusia (dan jin) mengasah potensinya, menangkap “realitas” yang terkandung di dalamnya. Dalam usaha inilah manusia sering gagal, lantaran ilmunya masih minim, dan kemampuan teknologi belum memadai.
Satu diantaranya adalah apa yang sedang kita bahas ini, yang memang harus diakui sampai sekarang masih terselubung misteri. Namun Al Quran, 14 abad yang lalu, telah mensinyalir kemungkinan-kemungkinan itu tadi.
Sekalipun begitu pemahaman kita tetap saja baru sebatas “teori”, mengingat banyaknya kelemahan dan keterbatasan kita sebagai manusia, di dalam memahami “realitas” yang dimaksudkan oleh Al Quran. Tetap saja ada “jurang” antara ‘realitas absolut’ yang dimaksudkan Allah (absolute reality) dengan ‘realitas’ yang tertangkap oleh “antena penerima” kita, atau daya potensi kita (relative reality).
Kita ambil saja satu ayat dalam surat 65 (Ath Thalaaq) ayat 12:
Allah-lah yang telah menciptakan ‘tujuh’ langit, dan seperti itu pula bumi. Hukum Allah (hukum alam menurut para ilmuwan) berlaku padanya, agar supaya kamu (wahai manusia) sadar bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu (apapun jua)…
Para ahli tafsir sepakat bahwa simbol ‘tujuh’, dalam ayat itu (dan beberapa ayat lainnya), merupakan lambang yang menunjukkan arti “banyak”, yang belum dapat ditentukan. Apakah ini juga berarti, “bumi pun banyak”.
Mitslahunna” dalam ayat tersebut lebih mempertegas kesimpulan ini, sebab ‘hunna’ dalam bahasa Arab berarti mereka (yang jumlahnya lebih dari 2). Dus, mitslahunna artinya serupa mereka (dalam hal ini langit).
Apa itu langit? Kata ini berasal dari terjemahan kata sama’, yang sering diartikan secara umum, langit. Padahal arti ‘sama’ itu banyak sekali, ada yang berati atmosfer (lihat QS. 6:99), ada juga berarti tata surya (lihat QS. 29: 22), Jagad Raya, Universe (lihat QS. 21: 104), dsb.
Tengoklah betapa mengagumkan ayat-ayat itu. Jadi banyak kemungkinan yang bisa timbul. Dia mungkin saja berarti, bukan hanya bumi yang banyak, bahkan bisa pula diartikan lebih jauh lagi “alam semesta (universe) ini pun banyak!!!?” dan di sana juga berlaku hukum-hukum Allah pada alam (sunatullah).
Tinggal sekarang manusia mencoba menggali, menyibak lebih dalam lagi, hingga akan sampai pada realitas yang sesungguhnya. Jelas ini tantangan.
Lalu, kalau begitu, mungkinkah di sana ada makhluk hidup? Seperti apa makhluk itu, seperti manusia? Entahlah… tapi yang jelas makhluk itu ‘kan bukan hanya manusia! Dalam Al Quran sering disebut “daabbah”, misalnya pada ayat:
Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan daabbah-daabbah yang Dia sebarkan pada keduanya (langit dan bumi). Dan Dia (Allah) Maha Kuasa untuk mengumpulkan semuanya jika dikehendaki”.(QS. 42: 29)
Masih banyak memang dalam terjemahan-terjemahan Quran, daabbah diartikan “makhluk melata”. Apa arti yang sebenarnya? Sampai saat ini sangat sulit dipastikan. Kita tunggu saja, hasil penyelidikan para ahli, ya. Namun yang penting kita garis bawahi di sini adalah lebih ditegaskan pada ayat itu pernyataan tentang adanya makhluk (daabbah) di langit (masih ingat ‘kan arti langit?), dan kemungkinan saling bertemunya penghuni langit tersebut dengan penghuni bumi. Kapan itu? Belum seorang pun berani memastikannya.
Dalam ayat lainnya lagi, ada satu hal yang cukup menarik juga kita bahas, guna memudahkan kita sampai pada kesimpulan yang benar, yaitu pada QS. 13: 15 dan QS. 16: 49; demikian:
Hanya kepada Allah-lah tubduk apa saja yang ada di langit dan di bumi, baik dengan kemauan sendiri ataupun terpaksa…” (Ar Ra’ad: 15)
Lalu bandingkan dengan ayat:
Dan hanya kepada Allah sajalah tunduk segala apa yang ada di langit dan semua daabbah di bumi…” (An Nahl: 49)
Buka al-qur’an, lalu lihat ayatnya. Perbedaan kedua ayat itu terletak pada kata-kata “maa” dan “man”; yang dalam terminologi bahasa Arab saling dibedakan, walau terjemahannya bisa berarti-sama.
Bedanya terletak pada objeknya, yaitu kata “maa” dipakai untuk menunjukkan “benda mati”atau materi, sedang “man” untuk “makhluk hidup”. Dalam QS. 13: 15 dipakai kata “maa”, sedang pada QS. 16: 49 dipakai kata “man”.
Artinya apa? Ya, jelas keduanya benar; baik materi (benda) maupun makhluk hidup ada di langit dan di bumi, dan (mungkin) juga diantara keduanya.
Kita buka lagi ayat ini:
Langit yang ‘tujuh’, bumi dan semua yang ada padanya, ‘bertasbih’ kepada Allah… tapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka itu…” (Al Isra’ ayat 44).
Pada ayat itu, sekali lagi ditegaskan bahwa langit itu banyak. Kemudian untuk menggambarkan objeknya dipakai kata “man”, artinya makhluk hidup, dan terakhir ada kata-kata “fiihinna”, bukan “fiihima”. Hal ini semakin memperkuat kesimpulan di atas, sebab “fiihinna” menunjukkan objeknya banyak, sedang “fiihima” berarti objeknya cuma dua. Menurut bahasa Arab, bentuk jama’ minimal jumlahnya tiga (tidak seperti bahasa lain, dua unit saja sudah disebut banyak).
“Dan hanya Tuhanmu sajalah yang lebih tahu (persis) siapa yang (ada) di langit dan di bumi…!” (Al Isra’: 55)
Maha benar Allah dengan segala Firman-Nya.

sumber:  http://www.pustakanilna.com/merkurius/

No comments:

Not Indonesian?

Search This Blog