Misteri Batu Berjalan sendiri di death valley akhirnya terpecahkan

Para saksi pertama terungkapnya misteri alam yang telah lama membingungkan ini adalah seorang insinyur, ahli biologi dan ilmuwan planet yang bertemu di stasiun cuaca terpencil.






Kelompok yang aneh ini telah merekam video pertama dari batu berlayar di Death Valley yang merayap di Racetrack Playa. Telah seabad, batu-batu disini memiliki alur-alur anggun yang panjang yang berubah minimal tiap satu dekade, yang membingungkan pengunjung dan ilmuwan. Batu-batu dolomit hitam ini bergerak sendiri, meluncur di seluruh playa yang datar. Alur-alur mereka adalah satu-satunya bukti bahwa batu-batu tersebut bergerak. Tak seorang pun pernah melihat mereka berlayar.

Banyak teori telah dikemukakan untuk untuk menjelaskan fenomena ini mulai dari medan magnet bumi, angin kencang hingga ganggang licin. Sekarang, dengan adanya bukti langsung yang berupa rekaman video, foto-foto timelapse dan pelacakan GPS dari batu-batuan yang bergerak di Racetrack Playa ini, misteri akhirnya terungkap!

Piringan es tipis bergerigi, menyerupai kepingan dan lempengan kaca pecah, mem'buldozer' batu-batu di seluruh playa, ungkap para ilmuwan rabu (27 Agustus 2014) dalam jurnal PLoS One. Didorong oleh angin lembut, batu batu meluncur di atas lumpur basah.


"Ini adalah fenomena yang indah," kata pemimpin penulis studi Richard Norris. "kolam seperti ini langka di Death Valley, dan mungkin satu dekade antara hujan yang cukup besar atau salju untuk membuat kolam besar," kata Norris, seorang ahli sejarah biologi di Scripps Institution of Oceanography di San Diego, California.

Racetrack Playa adalah danau kering sepanjang 4,5 kilometer, hampir rata dan dikotori dengan beberapa ratus batu. Beberapa sekecil bola, tapi batu-batu lainnya bisa seberat 317 kilogram. Bahkan batu terbesar meninggalkan jejak alur panjang di belakang mereka.

Beberapa alur jejak cukup pendek; beberapa membentang dua kali panjang lapangan sepak bola. Yang lainnya zig zag cukup tajam, menunjukkan perubahan arah yang cepat.

Playa sesekali banjir di musim dingin, dari hujan atau salju yang mencair. Terletak di ketinggian 1.100 meter di atas permukaan laut dan dikelilingi oleh pegunungan, suhu malam hari bisa turun di bawah titik beku, sehingga air danau yang dangkal mejadi lapisan tipis es yang cukup padat.


Kombinasi langka air dan es bergabung untuk memindahkan batu-batu, kata para peneliti. Danau Playa harus cukup dalam untuk es mengambang, tapi cukup dangkal agar batu-batu terekspos. Permukaan es harus tipis, namun cukup kuat untuk pecah menjadi kepingan besar yang bisa mengganggu batu-batu. Akhirnya, malam pembekuan perlu diikuti oleh hari-hari cerah dengan angin lembut, yang membuat es retak di sepanjang danau.

Serangkaian badai musim dingin yang basah menciptakan kondisi sempurna dari Desember 2013 sampai Februari 2014. Ratusan batuan berlari di Racetrack Playa lima kali dalam 10 minggu.

"Pada dasarnya, batu-batu bergerak selama sekitar satu menit dalam jutaan menit," kata Lorenz. "Anda harus berada di sana pada waktu yang tepat, dan waktu yang tepat umumnya adalah saat cuaca paling ramah untuk berada di sana."

Mencapai Racetrack Playa membutuhkan tenaga ekstra karena naik turunnya jalan kerikil sepanjang 28 mil. Keterpencilan tidak pernah menghalangi siapa pun yang terobsesi memecahkan teka-teki batu berlayar. Percobaan pertama di sini dimulai pada 1940-an dan tidak pernah berhenti.

Beberapa tahun yang lalu, dua orang sepupu dari California memutuskan untuk misteri Racetrack Playa. Richard Norris adalah ahli biologi dan Jim Norris adalah insinyur. Mereka mendapat izin dari National Park Service untuk memasang peralatan dan sensor di Racetrack Playa.

Pada musim dingin tahun 2011, dengan bantuan keluarga dan teman-teman, keluarga Norris menempatkan 15 batu impor yang dipasang pelacak gerak GPS ke Racetrack Playa. (PihakPark Service tidak ingin batu-batu alam diganggu. Mereka juga memasang stasiun cuaca untuk melacak hembusan angin.

Mereka menunggu batu untuk bergerak, tapi tidak pernah ada air saat itu.

Dua tahun kemudian, Lorenz, ilmuwan planet, melihat stasiun cuaca dan kemudian bertemu dengan tim Norris. - mereka memiliki kecocokan, kemudiani memutuskan untuk bergabung.

Lorenz telah menyelidiki batu berlayar sejak tahun 2006 lalu datang ke Death Valley untuk mempelajari dust debu sebagai analog untuk kondisi di Mars, tetapi ia juga menjadi takjub dengan Racetrack Playa.

Tempat yang tepat, waktu yang tepat
Pada Desember 2013, tim tersebut mendapat keberuntungan. Mereka melihat playa itu dipercantik dengan air setinggi 7 cm. Setelah semalam, kolam membeku dan ketika matahari terbit keesokan harinya maka es pun retak menjadi kepingan-kepingan dan sebagian mencair. Lembaran tipis es mengapung di air terdorong oleh angin lembut dan mendesak dan membawa batu-batu yang akhirnya juga bergerak perlahan diatas dasar yang licin dan basah. Itu semua tertangkap kamera.

Ratusan batuan yang bergerak, kata Norris. "Es berderak dan meletup sehingga membuat suara gaduh di seluruh playa tersebut."

Beberapa batu bergerak bersama-sama, meskipun mereka terpisah ratusan kaki, sementara yang lain bergerak secara independen. Batuan merayap dengan laju beberapa inci per detik (2-6 meter per menit), didorong oleh angin yang berkecepatan sekitar 10 mph (16 km/jam). Merayap nyaris tidak bisa dideteksi di kejauhan.

Batu-batu bergerak hingga lebih dari 200 kaki (60 m) dan tetap bergerak selama beberapa detik sampai 16 menit. Mereka akan sering bergerak lebih dari sekali sebelum mencapai tempat peristirahatan terakhir mereka. 

Menemukan diri mereka pada akhir sebuah teka-teki, baik Norris maupun Lorenz mengatakan mereka yakin penyelidikan mereka itu belum berakhir. Misalnya, tidak ada yang pernah melihat batu-batu raksasa di playa bergerak satu inci, sehingga proses lain mungkin bekerja pada bebatuan terbesar.


"Saya tahu ada orang yang suka misteri ini dan mungkin akan sedikit kecewa bahwa kami sudah pecahkan," kata Norris. "Ini adalah proses yang menarik, dan dalam banyak hal Saya berharap bahwa ada lebih banyak lagi yang akan ditemukan."

No comments:

Not Indonesian?

Search This Blog